20 Februari 2017

Surat Terbuka PM Belanda Mark Rutte

Mark Rutte
Mark Rutte. Foto: weekbladparty.nl.
Kepada semua orang Belanda,

Ada sesuatu yang tidak beres dengan negara kita. Mengapa sebagai negara kita begitu makmur, tetapi ada yang kelakuannya seperti orang susah? Orang-orang yang semakin lama semakin menentukan suasana di negara kita ini. Orang-orang yang siap menghempaskan apa saja yang selaku negara Belanda telah kita bangun lewat kerja keras. Apa mau kita biarkan?
 

Sebagian besar dari kita berniat baik. Para mayoritas-diam. Niat kami tulus terhadap negara kita. Kami bekerja keras, kami bergotong royong, dan kami merasa bahwa Belanda negara yang cukup kerenlah. Namun, kami juga khawatir akan cara kita bermasyarakat. Kenapa ya, kadang-kadang semua orang kok seperti berubah menjadi orang sok?

Anda pasti paham. Orang-orang yang tingkah lakunya seperti semakin asosial saja. Ya dalam berlalu lintas, di angkutan umum, di jalan. Yang merasa dirinya selalu harus didahulukan. Yang membuang sampah di jalan. Yang meludahi kondektur. Atau yang ramai-ramai menongkrong kemudian menjaili, mengancam, atau bahkan mengasari orang yang lewat. Soklah, pokoknya.

Kita merasa semakin gerah bila ada orang-orang yang menyalahgunakan kebebasan kita untuk membuat onar di sini, padahal alasan mereka telah datang kemari ya karena kebebasan itu juga. Orang-orang yang tidak mau menyesuaikan diri, mencela kebiasaan-kebiasaan kita, dan menolak nilai-nilai kita. Yang merecoki orang homo, menyoraki perempuan dengan rok pendek, atau mengatai orang Belanda kebanyakan rasis. Saya sangat bisa mafhum mengapa orang-orang jadi berpikir: kalau sampai sebegitunya kamu menampik negara kami, kenapa enggak angkat kaki sekalian? Pasal, perasaan saya sama. Kalau mau jadi orang sok, sok angkat kaki.

Tingkah laku seperti itu pantang kita anggap biasa di negara kita. Namun, solusinya bukanlah menyamaratakan kelompok-kelompok masyarakat tertentu, mencela mereka, atau serta-merta mengusir mereka secara massal dari negara kita. Kalau seperti itu caranya bagaimana kita mau membina kehidupan bermasyarakat? Solusi terutama berkenaan dengan mentalitas. Kita mesti mensosialisasikan secara ajek dan bernas apa saja yang dianggap biasa dan apa saja yang dianggap sok di negara ini. Kita harus dengan giat membela nilai-nilai kita.

Pasal, di Belanda berjabat tangan dan memperlakukan semua orang dengan sama itu biasa. Tidak mengusik petugas sosial, itu biasa. Menghormati guru dan tidak menghasut orang lewat vlog. Bekerja mencari nafkah dan menggali potensi diri: biasa. Saling membantu dalam keadaan susah dan melipur orang yang tengah dirundung masalah. Berikhtiar dan tidak lari dari permasalahan, biasa. Saling mendengarkan dengan santun. Alih-alih berperang mulut pada saat kita tidak sependapat tentang sesuatu. Biasa.

Dalam waktu dekat arah negara kita bakal ditentukan. Pertanyaan yang perlu dijawab cuma satu: negara seperti apa yang kita inginkan?

Mari kita berjuang agar kita tetap kerasan di negara kita yang permai ini. Mari kita terus mensosialisasikan apa yang dianggap biasa dan apa yang dianggap sok. Saya yakin kita bisa. Saya yakin bahwa segala sesuatu yang telah kita bangun bersama ini bisa kita kawal bersama. Anda, saya, kita semua. Mari bekerja sama menjadikan negara ini lebih baik. Soalnya, asli: negara kita keren banget. Disuruh pindah pun saya tidak mau. Kalau Anda?

Mark Rutte



Naskah di atas adalah terjemahan surat terbuka Perdana Menteri Belanda Mark Rutte yang dirilis pada 22 Januari 2017 dalam rangka pemilu Belanda yang akan berlangsung pada 15 Maret 2017. (Unduh naskah sumber.)

Bila menyimak isi surat, hal yang menarik ialah bahwa solusi yang ditawarkan oleh Rutte tidak berkenaan dengan perubahan sistem atau pengetatan peraturan, tetapi dengan mentalitas: solusinya berkenaan dengan ranah batin, ranah nonfisik. Hal itu bertolak belakang berbeda dengan pendekatan Geert Wilders, politikus anti-Islam yang menjadi penantang terkuat Rutte dalam bursa calon PM Belanda. Solusi Wilders berkenaan dengan hal ihwal yang berada pada ranah fisik.

Solusi dalam konteks ini berkaitan dengan keresahan dalam masyarakat Belanda yang diakibatkan oleh kelompok masyarakat pendatang asal Maroko, krisis migran Eropa, dan ancaman terorisme. Ada suatu ketidaknyamanan yang sedang dirasakan oleh masyarakat Belanda yang bersinggungan langsung dengan hal kesintasan. Wilders hendak mengatasinya dengan menutup perbatasan dan mendeportasi mereka yang melanggar hukum, Rutte dengan komunikasi sosial.

Keduanya melakukan apa yang menurut hemat saya menjadi tugas utama suatu negara, yaitu mengelola hasrat egoistis bangsa. Hasrat egoistis: kesintasan, kekayaan, kekuasaan, dan keilmuan.

Tata negara telah berkembang sedemikian rupa sehingga berpola pada hasrat-hasrat tersebut, tetapi hal itu--akibat ketidaktahuan--tidaklah diakui secara gamblang sehingga terkesan menjadi kebetulan belaka. Karena hasrat egoistis manusia tidak diakui, yaitu karena ketidaktahuan, negara menjadi sekadar pengelola sumber daya, alih-alih pengelola hasrat bangsa.

Pendekatan Rutte sudah tepat, relatif terhadap pendekatan Wilders. Namun, pendekatan Rutte akan lebih afdal apabila ditambahkan dengan upaya untuk memahami mereka-mereka yang dianggap meresahkan itu. (Pemahaman diraih dari pengetahuan dan adalah jalan menuju kecendekiaan.)

Dengan berusaha memahami, kita justru mengadakan perubahan pada diri kita sendiri, alih-alih mengimbau orang lain untuk berubah. Menurut saya, seseorang hanya akan berubah apabila ada panggilan dalam diri dia sendiri untuk berubah; sebelum itu terjadi segala imbauan hanya akan jatuh di pasir.

Bergiat melakukan pemahaman juga menjadi kunci untuk menggalakkan inklusivisme (lihat I-E Model)--inklusivisme berakar pada tepa salira--dalam, setidaknya, ranah sosial. Untuk menggalakkan inklusivisme pada seluruh ranah kehidupan (permutasi [I, I, I, I] pada I-E Model) dibutuhkan pemahaman mengenai diri kita sebagai manusia. Menurut saya, adalah tugas negara untuk menggalakkan peraihan pemahaman demikian lewat penyelenggaraan sistem pendidikan. Itulah pendidikan yang sesungguhnya; hal-hal lain mestinya disebut pelatihan saja. Dan seharusnya itu pula yang mesti menjadi tugas besar PM Belanda baru yang akan terpilih nanti: membuka jalan untuk Abad Pencerahan II.


Laurens Sipahelut
Tangerang, 20 Februari 2017



Kekekalan Laten Fasisme karya Rob Riemen.
Kekekalan Laten Fasisme
Tulisan di atas ditulis dalam rangka terbitnya Kekekalan Laten Fasisme karya Rob Riemen yang diluncurkan pada Sabtu, 4 Juni 2016, di Toko Buku Gunung Agung Margocity, Depok, dengan menghadirkan narasumber Rocky Gerung (FIB UI). Buku dapat dibeli pada Toko Buku Gunung Agung cabang:
  • Jakarta Pusat (Atrium, Kwitang 06, Kwitang 38)
  • Jakarta Barat (Trisakti)
  • Jakarta Timur (Arion, Kramat Jati, Pondok Gede, Tamini Square)
  • Jakarta Selatan (Blok M Plaza, Senayan City)
  • Tangerang Selatan (BSD)
  • Tangerang (Tangcity Mall)
  • Bandung (BIP)
  • Bekasi (Bekasi CyberPark)
  • Depok (Margo City)
  • Semarang (Citraland Semarang, Paragon Mall)
  • Surabaya (Galaxy Surabaya, Surabaya Delta)
  • Denpasar (LIBBI Denpasar)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar