Tampilkan postingan dengan label elvin post. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label elvin post. Tampilkan semua postingan

15 Januari 2017

9 Cara Iptek Melacak Seni Palsu

Pola retakan pada lukisan 'Mona Lisa'.
Pola retakan pada lukisan 'Mona Lisa'.
Saban tahun transaksi jual beli seni mencapai kurang lebih $ 64 miliar. Masalahnya, 2 sampai 50 persen dari seni yang diperjualbelikan itu diperkirakan palsu. Akan tetapi, Iptek ternyata bisa membantu menetapkan mana karya yang asli, dan mana yang palsu.

1. Menafsirkan Pola Retakan

Pola retakan (craquelure)—jaringan retak halus pada permukaan lukisan berumur tua—pada setiap karya seni sifatnya khas. Selama berabad-abad lamanya, pemalsu meniru efek tersebut dengan memakai pelarut, sketsa pensil, formaldehida, dan lilin lebah beku. (Misalnya, pemalsu Han van Meegeren [1889-1947] pernah menuakan sebuah karya Vermeer palsu dengan cara memanggangnya di dalam oven piza.) Banyak museum yang sekarang memiliki catatan lengkap tentang pola retakan lukisan, dan ilmuwan kini menggunakan Penyantiran Transformasi Reflektans untuk menciptakan 'peta topografis' retakan pada permukaan lukisan.

2. Mengendus Aspalan dengan Debu Nuklir

Antara 1945 dan 1963, yaitu tahun berlakunya traktat Pelarangan Uji Coba Nuklir, terjadi kurang lebih 2000 uji coba bom nuklir. Ledakan-ledakan tersebut membanjiri planet kita dengan isotop radioaktif—terutama sesium-137, karbon-14, dan strontium-90—yang lantas mengontaminasi tanah di seluruh belahan dunia, termasuk tanaman rami dan minyak biji rami yang menjadi bahan cat modern. Hasilnya? Sebagian besar lukisan yang dibuat pasca-1945 memuat isotop tersebut. Dengan bantuan spektrometer massa, ilmuwan kini bisa menguji sebuah lukisan guna menyelisik apakah kandungan atom radioaktifnya berada dalam takaran yang kelewat tinggi. Teknik tersebut, misalnya, pernah membuktikan bahwa sebuah karya Fernand Léger yang konon dilukis pada 1913, ternyata aspalan yang dibuat bertahun-tahun setelah orangnya mati pada 1955.

3. Cincin Pohon Tidak Berbohong

Seniman seperti Rembrandt dan Holbein gemar melukis pada panel kayu. Panel kayu mengandung apa yang disebut cincin pohon. Ketebalan cincin pohon ditentukan oleh cuaca. Pada saat cuaca bagus cincin pohon yang terbentuk berukuran tebal. Kala cuaca buruk cincin pohon menyempit. Lewat metode dendrokronologi ilmuwan bisa menentukan keaslian sebuah karya seni dengan membandingkan pola ketebalan cincin terhadap sebuah sampel pohon, lalu menetapkan usia dan asal kayunya.

4. Menerawang Lukisan dengan Radiasi Inframerah

Pelukis lazimnya membuat gambar rancangan terlebih dahulu pada kanvas sebelum mulai melukis. Pakar bisa menerawang coretan-coretan itu dengan bantuan inframerah reflektografi, suatu teknik yang menembakkan riak-gelombang radiasi ke sebuah karya seni untuk menerawang gambar yang tersembunyi di bawah lapisan cat. Pada 1954, sebuah tim sejarawan seni mendapati adanya salinan kedua lukisan Francesco Francia Perawan Maria dan Bayi dengan Malaikat. Hal itu berbuntut dengan kontroversi yang awet selama puluhan tahun, yang berujung dengan kesimpulan bahwa salinan di National Gallery, London, merupakan karya aspalan abad ke-19 dan bahwa versi yang kini disimpan di Carnegie Museum of Art, Pittsburgh, adalah karya asli. Hal itu terungkap pada 2009 berkat bantuan uji reflektogram inframerah. Si pemalsu mensketsa lukisan di National Gallery dengan grafit, bahan yang semasa Francia belum tersedia.

5. Menembus Permukaan dengan Sinar-X

Sinar-x ternyata sanggup mengangkat tabir masa lalu sebuah lukisan. Selama bertahun-tahun, kurator Fogg Art Museum, Cambridge, Amerika Serikat, meyakini bahwa Potret Seorang Perempuan adalah hasil karya Francisco de Goya. Akan tetapi, pada 1954, sinar-x mengungkapkan adanya potret lain yang tersembunyi di bawah permukaan lukisan itu. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa lukisan yang terbenam itu mengandung cat putih zink—pigmen yang pada masa de Goya belum tersedia.

6. Mengendus Pigmen Ganjil Menggunakan Laser

Pada 1923, pemalsu Han van Meegeren memalsukan lukisan Frans Hals abad ke-17 Si Kavalier yang Tergelak dengan meyakinkan. Kalangan pakar baru pada kemudian hari menyadari bahwa mereka ternyata terkecoh ketika, dengan menggunakan difraksi sinar-x, mereka mendapati bahwa lukisan itu mengandung cat ultramarin sintetis, sebuah pigmen yang baru ditemukan 162 tahun setelah Hals meninggal. Kalangan sejarawan seni zaman sekarang menggunakan spektroskopi Raman untuk menemukan pigmen-pigmen ganjil. (Spektroskop Raman menembakkan laser ke pigmen. Begitu cahaya terhambur dari lukisan, mesin membaca cap-jari kimiawi khas masing-masing pigmen.)

7. Mengindra Aspalan Menggunakan Cahaya UV

Pada 1989, FBI menangkap Robert Trotter karena memalsukan karya pelukis abad ke-19 John Haberle. FBI berhasil menciduk Trotter berkat bantuan cahaya UV. Pasal, siraman cahaya UV menjadikan pernis pada lukisan tua bercahaya. Akan tetapi, lukisan berusia muda berpendar lebih sedikit, dan acap memancarkan pijar secara sangat seragam. Taktik Trotter adalah, dia menyaput karya-karya aspalan dia dengan pernis kopal yang, di bawah cahaya UV, menghasilkan kemilau yang tampak meyakinkan di mata seorang tenaga amatir, tetapi bagi seorang profesional terlihat kelewat seragam untuk lukisan yang sudah berumur 100 tahun.

8. Gali Bakat Terpendam Kamu di Bidang Keresersean

Sebelum ada mesin-mesin canggih yang bisa melacak karya palsu, kurator menggunakan metode Morelli. Giovanni Morelli adalah seorang kritikus seni pada abad ke-19 asal Italia yang memiliki bakat khusus menetapkan autentisitas sebuah lukisan hanya dengan menggunakan mata telanjang. Dia mengetahui bahwa seniman mengikuti pakem tertentu kala melukis bagian yang kecil-kecil seperti kuping, mata atau kuku, dan dia meyakini bahwa apabila seorang kritikus menghayati kebiasaan-kebiasaan seorang seniman dalam melukis bagian tubuh tertentu seperti itu, dia bisa menentukan orang yang memegang kuas. (Morelli kebetulan juga bergelar dokter dan dia meyakini bahwa menentukan sebuah karya seni lewat bagian yang kecil-kecil ibarat mendiagnosis penyakit.) Morelli mengenal paman Arthur Conan Doyle dan bisa jadi kemampuan Morelli untuk melacak petunjuk-petunjuk penting yang tampak remeh lantas mengilhami Doyle untuk menciptakan tokoh Sherlock Holmes yang terkenal itu.

9. Hati-Hati: Salah Eja Bisa Berakibat Fatal

Selama 17 tahun di bengkel halaman belakang rumahnya Shaun Greenhalgh memalsukan apa saja, mulai dari pahatan karya Gauguin sampai patung-patung Mesir berusia 3300 tahun. Hebatnya lagi, dia menuakan karya seni 'purbakala'-nya itu cukup dengan bantuan teh dan lempung. Dia sukses mengadali berjibun pecinta seni dan museum hingga pada 2006 Scotland Yard menciduknya. Kesalahan dia? Kalangan pakar museum-museum di Inggris mendapati bahwa tiga dari naskah kuneiform dia bertaburan salah eja. (Akan tetapi, Museum Victoria and Albert rupanya cukup terkesan dengan karya-karya aspalan Greenhalgh: pada 2010, karya-karya dia diikutsertakan dalam sebuah pameran yang diadakan oleh mereka.)

Bonus: Yang Barangkali Belum Kamu Tahu tentang Michelangelo

Michelangelo ternyata mengawali kariernya sebagai pemalsu seni. Pada 1496, pada usia 20 tahun, dia memalsukan patung Cupid, menguburnya di dalam tanah asam untuk menjadikannya tampak tua, dan lantas menjualnya sebagai 'benda kuno'. Saking canggih aspalannya, ketika si pembeli tahu bahwa karya itu palsu, orangnya tidak menjadi gusar. Malah, Michelangelo boleh tetap menyimpan bayarannya dan kabar yang beredar tentang penipuannya justru melejitkan kariernya.

Sumber: MentalFloss.com


Palsu. Akan terbit.
Palsu. Akan terbit.
Tulisan di atas diturunkan dalam rangka akan terbitnya Palsu, edisi bahasa Indonesia thriller novelis Belanda Elvin Post. Ikuti perkembangannya pada akun Twitter Pionir Books (@PionirBooks) lewat tagar #PalsuNovelElvinPost.

10 Desember 2016

Ada di Mana Rayahan Museum Gardner? (Bagian III: Akhir)

Di mana Rembrandt?
Di mana Rembrandt?
Pada Mei 1980, pemain virtuoso biola Roman Totenberg kecurian biola Stradivarius miliknya. Setelah tampil pada suatu konser Longy School of Music di Cambridge, Massachusetts, Totenberg, direktur sekolah tersebut, meninggalkan biolanya yang dibuat pada 1734 di dalam kantornya guna menghadiri suatu perjamuan. Begitu dia kembali, biolanya raib. Totenberg meninggal pada 2012 dalam usia 101, tanpa pernah melihat biolanya kembali.

Setelah 35 tahun, biola Stradivarius itu kembali. Philip S. Johnson, seorang pemain biola yang lama menjadi tersangka kasus pencurian itu, mewariskannya kepada mantan istri dia ketika dia meninggal pada 2011. Empat tahun kemudian perempuan itu membawanya kepada seorang juru taksir, yang mengenalinya sebagai biola milik Totenberg. Pada Agustus 2016, pihak FBI mengembalikan biola tersebut kepada Nina Totenberg dalam suatu upacara di kantor Kejaksaan AS, Manhattan.

Apabila sebuah biola adikarya bisa kembali ke pemiliknya, begitu pula halnya dengan sebuah lukisan adikarya. Seperti biola Totenberg, ujar Amore, seni curian sering kali ditemukan kembali satu generasi setelah pencurian terjadi. Pada saat itu, 'orang yang paling disegani yang terlibat dalam kejahatan telah meninggal atau tidak terlalu ditakuti lagi,' ujar Amore. 'Sehingga, sekarang orang berani muncul ke publik.'

Sering kali petunjuk dari masyarakat berujung dengan kembalinya seni yang hilang dicuri: 'Orang yang mendatangi kami dan mengaku bahwa dia telah melihat sesuatu, bahwa dia mengetahui sesuatu.' Petunjuk seperti itu lazimnya datang dari seorang sahabat atau anggota keluarga si pencuri seni. 'Sayangnya, tidak pernah yang punya petunjuk seperti itu berasal dari orang yang sedang mencari angin dan kebetulan melihat sebuah lukisan lewat sebuah jenderal rumah,' ujar Amore. 'Lukisan-lukisan seperti itu tidak dipajang di rumah orang. Mereka disembunyikan.'

Terkadang, seorang informan kriminalis yang memberikan petunjuk, atau orang yang menyimpang barang seninya bersedia berunding. 'Kadang, barang seni curian dipakai untuk menegosiasikan keringanan hukuman,' ujar Amore. 'Ada malah yang mencuri sebuah karya seni untuk nantinya digunakan sebagai alat negosiasi seandai suatu saat dia terancam masuk bui.'

Seperti biola Stradivarius itu, karya seni Museum Gardner mungkin berada pada seseorang yang tidak mencurinya atau menyembunyikannya. 'Yang saya khawatirkan, barangnya ada pada seorang yang tidak bersalah,' ujar Amore, 'tetapi orangnya takut untuk muncul ke publik gara-gara merasa takut akan suatu bahaya dari dunia luar.'

Di Amerika, menyimpan secara sadar harta curian tergolong sebagai tindak pidana, tetapi kantor Kejaksaan AS di Boston telah menawarkan kemungkinan diberikannya kekebalan bagi siapa saja yang membantu memulangkan karya seni milik Museum Gardner. Menurut Amore, pihak museum bisa melindungi jati diri seorang pemberi petunjuk dan menyerahkan imbalan $5 juta itu secara awanama, lewat perantaraan seorang kuasa.

'Yang diinginkan oleh museum cuma lukisannya,' ujar Amore. 'Saya sebisa mungkin berusaha untuk memastikan bahwa mereka yang datang memberikan informasi, bahwa nama mereka tidak pernah bakal bocor. Kami punya cara-cara tertentu untuk menjamin itu, untuk membayar imbalannya, sehingga nama si penerima tidak akan diketahui oleh khayalak ramai.'

Hal itu memperbesar kemungkinan bahwa misteri terbesar kota Boston itu bisa jadi akan berakhir secara misterius, bahwa pada suatu saat warga kota Boston bakal bisa melihat kembali lukisan-lukisan yang hilang terpampang di dinding galeri Museum Gardner, tetapi tanpa pernah mengetahui siapa para pelaku pencuriannya dan bagaimana lukisan berhasil dikembalikan. 'Apabila sebuah karya berhasil dipulangkan kembali, sering informasinya langka dan tidak jelas,' ujar Amore, 'soalnya ada bagian-bagian pada kisah yang tidak bisa diceritakan.' Bagi Amore itu sah-sah saja. 'Saya jauh lebih mementingkan pulangnya kembali karya yang hilang ketimbang kisahnya,' ujar dia.

Kemungkinan lain ialah bahwa misteri Gardner tidak pernah akan terpecahkan. Bisa saja karya seninya telah dihancurkan, atau telah menjadi kelewat rusak sehingga imbalan $5 juta menjadi tidak berlaku lagi, atau mungkin mereka telah lenyap karena pencurinya telah meninggal tanpa pernah mengungkapkan lokasi karya seni itu. Akan tetapi, Amore tidak terlalu memusingkan skenario terburuk seperti itu. Kurang lebih 80 persen adikarya-adikarya yang dicuri, ujarnya, pada akhirnya kembali ke tempat asal.

'Begitu banyak orang yang tertarik pada kasus ini,' ujar Amore. 'Apabila ingin membantu, silakan simak baik-baik gambar-gambar lukisan. Dengan cara itulah kasus ini bisa dituntaskan.' Situs Museum Gardner menyajikan suatu presentasi berisikan karya seni yang hilang dicuri, dan pada laman FBI mengenai kasus itu terpampang gambar setiap karya yang hilang.

Setiap potong informasi bisa membantu. 'Saya tidak berharap tiba-tiba ada yang menelepon dengan pesan, "Lukisannya ada di Loker 3 di tempat penitipan barang anu",' ujarnya. 'Sebetulnya ini lebih mirip menyusun sebuah teka teki gambar, kita mulai dengan bagian tepi, lalu orang memberikan potongan-potongan pelengkap.

'Sering kali, pada saat menyusun teka teki gambar, ada satu potong yang langsung membuat gambar menjadi tersusun lebih cepat. Saya tidak mau mengoyok mencari potongan yang seperti itu. Saya mencari potong-potong yang lebih kecil yang bisa saya susun menjadi bagian yang lebih besar.'

Sumber: BostonMagazine.com 


Palsu. Akan terbit.
Palsu. Akan terbit.
Tulisan di atas diturunkan dalam rangka akan terbitnya Palsu, edisi bahasa Indonesia thriller novelis Belanda Elvin Post. Ikuti perkembangannya pada akun Twitter Pionir Books (@PionirBooks) lewat tagar #PalsuNovelElvinPost.

3 Desember 2016

Ada di Mana Rayahan Museum Gardner? (Bagian II)

Kristus dalam Badai di Atas Danau Galilea: hilang.
Kristus dalam Badai di Atas Danau Galilea: lenyap.
'Bayangan akan seorang pencuri seni profesional, seorang pencuri lihai yang mencuri adikarya-adikarya pilihan, itu keliru,' ujar Amore. 'Tidak ada kaitannya sama sekali ini dengan oknum yang menginginkan sebuah karya seni untuk melengkapi koleksinya. Mereka ini cuma mencuri demi duit.'

Sangat jarang orang yang mencuri sebuah adikarya mengulang kembali perbuatannya, ujar Amore, karena mereka dengan cepat mendapati bahwa lukisannya sulit dilego. 'Nasib mencuri sebuah karya seni yang dikenal luas ialah, penadah tidak ada yang mau menyentuh,' ujar Amore.

Amore hanya mengetahui dua pencuri sepanjang sejarah yang pernah mencuri barang seni lebih dari sekali. Satu bernama Adam Worth, seorang penjahat pada abad ke-19 yang menjadi ilham tokoh Professor Moriarty, musuh bebuyutan Sherlock Holmes. Satunya lagi adalah pencuri seni ahli, Myles Connor, yang pada 1975 mencuri sebuah Rembrandt dari Museum Seni Rupa, Boston, yang kemudian dia pakai untuk mengurangi hukuman yang dijatuhkan kepadanya setelah mencuri sejumlah lukisan N.C. Wyeth dan Andrew Wyeth satu tahun sebelumnya.

'Dia pencuri seni tercanggih yang pernah hidup,' ujar Amore. Akan tetapi, tambahnya, 'Myles Connor tidak melakukan perampokan Museum Gardner. Seandai Myles pada saat kejadian tidak sedang berada di dalam penjara, pelakunya mestinya dia. Tetapi kita tahu bahwa bukan dia pelakunya.' Connor suka menggadang bahwa dialah yang menjadi ilham perampokan Gardner sembari mengaku bahwa rekan-rekan dia mengeksekusi rencana yang seyogianya dibidani oleh dia. Akan tetapi, sejumlah tawaran Connor pada akhir 1990-an untuk membantu mencari lukisan-lukisan yang raib itu tidak ada yang terlaksana. Amore, yang pernah bertemu dengan Connor, menafikan pengakuan-pengakuan Connor itu. 'Yakin aku; seandai sekarang dia tahu lokasinya di mana, lukisan sudah ada di tangan kita.'

Pada 1990, siasat yang dipakai para pencuri, yaitu dengan menyamar sebagai petugas polisi, lazim digunakan dalam aksi-aksi perampokan di bilangan Massachusetts. Jadi, Amore ingin memperoleh petunjuk dari masyarakat yang mungkin mengetahui kriminalis yang mungkin saja terlibat dalam perampokan Gardner, atau yang pernah memakai siasat-siasat serupa dan yang barangkali memiliki seragam polisi. 'Kami ingin melacak otak pencurian,' ujarnya.

Akan tetapi, yang lebih-lebih didambakan oleh Amore ialah petunjuk yang bisa membawanya ke lukisan-lukisan itu--bukan ke para pencurinya. Pada, 2013, dalam rangka peringatan tahun ke-23 kasus pencurian Gardner, petugas-petugas FBI, dengan didampingi Amore, mengumumkan bahwa mereka meyakini bahwasanya mereka telah berhasil menetapkan identitas para pelakunya, dan bahwa lukisan-lukisan itu ternyata beredar dalam kalangan kejahatan terorganisasi di Connecticut dan Philadelphia. Tahun lalu, sebelum peringatan tahun ke-25, Amore dan petugas FBI yang mengetuai penyelidikan membocorkan lebih banyak petunjuk seputar teori mereka terkait kasus itu. Kasus pencurian Gardner berkisar seputar almarhum Carmello Merlino, pemilik bengkel mobil di bilangan Dorchester, Boston, yang memiliki hubungan dengan Mafia, selain juga seputar George Reissfelder dan Leonard DiMuzio. Baik Reissfelder maupun DiMuzio meninggal pada 1991, dan keduanya menyerupai sketsa polisi para pelaku pencurian. Reissfelder membawa sebuah Dodge Daytona merah, mobil yang dipergoki para pelajar tengah terparkir di luar gedung Gardner itu. 'Dulu kami pernah bilang bahwa kami sudah pegang identitas para pelakunya,' ujar Amore, 'tetapi hal itu tidak serta-merta membawa kami ke lukisan.'

Selama bertahun-tahun Museum Gardner menawarkan imbalan $5 juta untuk petunjuk yang bisa berujung dengan dikembalikannya ketiga belas karya seni itu dalam kondisi apik. Tahun lalu, pihak museum mengumumkan imbalan $100.000 yang terpisah dari yang $5 juta untuk elang perunggu dari zaman Napoleon itu, karena ada kemungkinan bahwa benda itu sejak pencurian telah berpencar dari karya-karya lukisannya. 'Mungkin ia diambil sebagai tanda kenang-kenangan,' ujar Amore. 'Bisa saja benda itu sekarang ada di rumah atau toko antik seseorang.' Harian Hartford Courant pernah menurunkan laporan bahwa bertahun-tahun yang lalu elang tersebut pernah terlihat di lahan mobil bekas milik Robert Gentile.

Petunjuk mengenai keberadaan seni Gardner jumlahnya sedikit dan bersifat samar. 'Itu berarti bahwa mereka belum sempat beredar terlalu luas,' ujar Amore. Sekitar 2003, menurut seorang saksi FBI, pihak tertentu di Philadelphia berupaya menjual Kristus dalam Badai di Atas Danau Galilea karya Rembrandt. Seorang penuntut federal di Hartford, Connecticut, menyatakan di depan meja hijau bahwa pada 2015 Gentile berusaha menjual beberapa di antara lukisan Gardner kepada seorang petugas FBI yang tengah menyamar; pengacara Gentile menyatakan bahwa kliennya cuma membual dan bahwa lukisan itu tidak ada pada dia.

'Orang beranggapan bahwa karena seperempat abad telah lewat, benda-benda itu sudah lama hilang,' ujar Amore. Belum tentu. 'Siapa pun yang waktu itu pegang lukisannya, kemungkinan dia masih memiliki semua atau sebagian dari koleksi itu.'

Sumber: BostonMagazine.com


Palsu. Akan terbit.
Palsu. Akan terbit.
Tulisan di atas diturunkan dalam rangka akan terbitnya Palsu, edisi bahasa Indonesia thriller novelis Belanda Elvin Post. Ikuti perkembangannya pada akun Twitter Pionir Books (@PionirBooks) lewat tagar #PalsuNovelElvinPost.

30 November 2016

Ada di Mana Rayahan Museum Gardner? (Bagian I)

Museum Isabella Stewart Gardner
Museum Isabella Stewart Gardner.
Dua puluh enam tahun sejak karya-karya seni itu dicuri, kepala keamanan museum mempunyai dugaan siapa pelakunya. Namun, soal di mana gerangan rayahannya itu berada, dia hanya bisa mengangkat bahu.

Kadang kala, agar Anthony Amore tidak menjadi hilang akal setelah sebelas tahun lamanya memburu lukisan-lukisan rayahan milik Museum Isabella Stewart Gardner, dia, bersama tim petugas FBI yang ditugaskan pada kasus itu, menelaah bagaimana adikarya-adikarya yang pernah dicuri dari musem lainnya, berhasil pulang kembali.

Apabila ketiga belas karya seni Museum Gardner yang dirampok pada 1990 itu kembali pulang, apakah itu bakal berkat bantuan seorang penjahat pemain lama, yang akhirnya bersedia bekerja sama? Atau berkat seorang anggota keluarga yang sedang membongkar-bongkar warisan yang tersimpan di loteng? Atau berkat petunjuk dari masyarakat, dari seseorang yang melihat atau mendengar sisik melik pemungkas?

'Sering kami itu bilang, "Kapan ya, skenario seperti itu terjadi pada kita?"' ujar Amore, direktur keamanan Museum Gardner sejak 2005. Akan tetapi, setelah melakukan pencarian selama satu dasawarsa, setelah mengumpulkan 30.000 potong informasi terkait tindak pidana itu, dia meyakini bahwa kepulangan karya-karya yang hilang dicuri itu ibaratnya sudah di depan mata.

'Berkat secuil informasi saja, besok juga kasusnya bisa terpecahkan,' ujar Amore.

Pencurian seni terbesar dalam sejarah dunia terjadi di kota Boston, Amerika Serikat, 26 tahun yang lalu, yaitu pada 18 Maret 1990, ketika dua pencuri yang menyamar sebagai petugas polisi berhasil mengelabui petugas keamanan yang bertugas dan melarikan adikarya pelukis-pelukis ternama seperti Rembrandt, Vermeer, dan Manet.

Walaupun hampir tiga dasawarsa telah berlalu, kasus itu belum dipetieskan. Amore dan pihak FBI menandai peringatan ke-23 dan ke-25 perampokan dengan berbagi teori-teori utama mereka soal kasus tersebut, yaitu bahwa para pelakunya adalah pencuri kelas teri asal Dorchester, Boston, dengan campur tangan anggota Mafia dari Connecticut dan Philadelphia. Tahun ini, pada 2016, pada peringatan ke-26 kasus pencurian itu, Amore berspekulasi tentang bagaimana kasus itu bakal berakhir.

Namun, Amore menekankan agar ucapan dia jangan dianggap sebagai petunjuk mengenai tersangka-tersangka tertentu. 'Tolong jangan menganggap kata-kata saya sebagai tanggapan atas para pelaku aksi Gardner secara perinci,' ujarnya. 'Misalnya, nama yang satu ini selalu muncul dalam media cetak: Robert Gentile.' Seorang penuntut federal mendakwakan bahwa Gentile, seorang laki-laki berusia 79 tahun yang konon merupakan gangster Connecticut, kemungkinan menadah beberapa di antara lukisan yang hilang itu. 'Tetapi jangan beranggapan saya berusaha mengaitkan-ngaitkan Robert Gentile ke profil-profil itu.'

Dalam menyusuri jejak karya-karya yang dicuri, Amore, 49 tahun, sering menggunakan pendekatan yang lazim dipakai oleh ahli sejarah seni ketimbang oleh penyidik federal: dia telah mengumpulkan 1.300 potong informasi seputar kasus-kasus perampokan seni dari seluruh penjuru dunia. Meskipun Museum Gardner mempekerjakan Amore lima belas tahun setelah pencurian terjadi, dia betul-betul menghayati pekerjaannya: di dalam dompetnya terdapat salinan salah satu karya yang hilang itu, yaitu etsa karya Rembrandt berjudul Potret Sang Artis Sebagai Pria Muda sebagai pengingat akan aksi kejahatan yang sedang dia selidiki itu. Amore mengatakan bahwa kasus-kasus perampokan seni yang pernah terjadi sebelumnya bisa memberikan petunjuk mengenai para perampok Museum Gardner maupun cara kasus itu mungkin bisa dipecahkan.

Pada 1990, satu jam setelah Hari St. Patrick berakhir, sekelompok pelajar berjalan melewati Museum Gardner dan mendapati pemandangan yang ganjil: dua laki-laki berseragam polisi yang tengah duduk di dalam sebuah mobil preman model hatchback. Salah seorang dari para pelajar itu memperhatikan bahwa mobil tersebut tidak ber-nopol tetapi karena tidak ingin tertangkap tangan mengonsumsi alkohol di bawah umur, dia dan teman-temannya memutuskan untuk berlalu saja dari situ.

Pada pukul 1:24, mobil itu memasuki jalan pintu masuk pegawai. Salah seorang dari laki-laki berseragam polisi itu menekan tombol bel, mengaku kepada satpam yang bernama Richard Abath bahwa mereka datang karena ada laporan kericuhan, dan meyakinkan Abath untuk mempersilakan mereka masuk.

Berjam-jam kemudian, Abath dan seorang petugas satpam lainnya ditemukan di bawah ruang bawah tanah dalam keadaan diborgol dan direkat selotip. Tiga belas karya seni hilang, termasuk lima karya Edgar Degas dan tiga karya Rembrandt van Rijn, termasuk lukisan Kristus dalam Badai di Atas Danau Galilea dia, satu-satunya pemandangan laut yang diketahui pernah dilukis olehnya.

'Masyarakat tahunya perampokan berlangsung dengan begitu canggihnya,' ujar Amore. 'Itu anggapan yang keliru.' Seandai saja Abath mengikuti protokol dan menghubungi kepolisian Boston, tidak bakal petugas gadungan itu bisa menembus sampai ke dalam Museum Gardner. 'Pada dasarnya, itu rencana awur yang ternyata manjur.'

Rayahan pencuri mencakup adikarya pelukis Johannes Vermeer berjudul Konser, yang menurut Amore adalah benda paling berharga di dunia--$200 juta---yang pernah dicuri. Akan tetapi, koleksi lain yang mereka bawa pergi menjadikan Amore yakin bahwa, seperti sebagian besar pencuri seni lainnya dalam sejarah, mereka adalah penjahat biasa dan bukan pakar dalam kejahatan seni. Para pencuri tidak menyentuh Eropa karya Titian, lukisan paling berharga Museum Gardner, tetapi malah membawa pergi sebuah tampuk bendera berbentuk elang dari zaman Napoleon yang terbuat dari bahan perunggu.



Sumber: BostonMagazine.com


Palsu. Akan terbit.
Palsu. Akan terbit.
Tulisan di atas diturunkan dalam rangka akan terbitnya Palsu, edisi bahasa Indonesia thriller novelis Belanda Elvin Post. Ikuti perkembangannya pada akun Twitter Pionir Books (@PionirBooks) lewat tagar #PalsuNovelElvinPost.

30 September 2016

10 Kasus Pencurian Seni Terbesar Abad ke-20 (Bagian II)

6. Belanda: Desember 1988

'Bunga Matahari Kering' karya Van Gogh.
Tebusan lebih mudah diperoleh bilamana karya lukisan diasuransikan.
Tiga lukisan Van Gogh––Bunga Matahari Kering, Ruang Dalam Penenun, dan versi awal Pemakan Kentang––dicuri dari Museum Kroller-Muller di Otterlo, Belanda. Pola gelombang pencurian seni pada umumnya mencermini pola gelombang pasar seni, dan itu pula yang dialami pada kasus ini. Dua pekan sebelum kejadian terbit sebuah daftar berisikan harga-harga tertinggi yang pernah diraup pada perlelangan karya seni Sotheby's dan Christie's. Dalam daftar sepuluh karya termahal tercantum lima lukisan Van Gogh, termasuk Bunga Iris yang laku $ 53,9 juta (termahal pada waktu itu).

Para pelaku menuntut tebusan $ 2,5 juta. Pada 13 Juli 1989, pihak kepolisian berhasil memulangkan kembali barang curian. Tanpa membayar tebusan.

7. Amerika Serikat: Maret 1990

Pada pukul 01:24, yaitu pagi hari setelah St Patrick's Day, dua laki-laki berseragam polisi mengetuk pada sebuah pintu samping Museum Isabella Stewart Gardner di Boston dan mengaku adanya laporan ‘kegaduhan' di lokasi itu. Petugas satpam mempersilakan mereka masuk tetapi dia malah langsung diborgol dan kemudian disekap di ruang bawah tanah. Karya yang digondol para pencuri meliputi Konser karya Vermeer, Kristus dalam Badai di Atas Danau Galilea karya Rembrandt (satu-satunya lukisan pemandangan laut maestro Belanda itu), Chez Tortoni karya Manet, lima lukisan Degas, dan sejumlah pernak-pernik seperti cawan perunggu Tiongkok dan tiang panji-panji dari zaman Napoleon. Namun, para pencuri tidak menyentuh lukisan zaman Renaisans, seperti Eropa karya Titian (karya paling berharga museum itu).

'Kristus dalam Badai di Atas Danau Galilea' karya Rembrandt.
Masih juga hilang...
Total nilai gedoran diperkirakan mencapai $ 300 juta. Pada 1997, kala penyelidikan tengah mengalami jalan buntu, pihak museum menaikkan hadiah uang dari $ 1 juta ke $ 5 juta. Langkah itu lantas mengundang munculnya banyak pemberi info, termasuk di antaranya seorang diler barang antik asal Boston, William P. Youngworth III. Youngworth agak kurang jelas juntrungannya tetapi dia berhasil meraih perhatian begitu dia menghubungi Tom Mashberg, seorang wartawan Boston Herald, dan mengaku bahwa dia dan Myles Connor, yang juga berlatar belakang kurang jelas, sanggup mengupayakan pemulangan barang gedoran itu. Harga dia: kekebalan bagi diri dia, pembebasan Connor dari penjara, dan hadiah uang itu. Pada saat perampokan Gardner berlangsung Connor tengah meringkuk di penjara––lantaran kasus pencurian seni yang berbeda––tetapi dia mengaku bisa melacak barang curian itu apabila dia dibebaskan. Kecurigaan tentu saja muncul. Kemudian Mashberg mendapat panggilan telepon yang berujung dengan suatu perjalanan malam ke sebuah gudang tempat dia––di bawah temaram lampu senter––ditunjukkan lukisan yang diyakini adalah Kristus dalam Badai di Atas Danau Galilea-nya Rembrandt. Dia kemudian dibekali sejumlah serpihan cat, yang konon dicongkel dari lukisan itu. Namun, serpihan ternyata tidak berasal dari lukisan Rembrandt itu. Jaksa Amerika Serikat menuntut bahwa salah satu lukisan dipulangkan saja sebagai bukti bahwa barang curian betul ada pada pihak pengirim serpihan cat tetapi hal itu tidak ditanggapi dan perundingan pun menjadi mentah. Connor kini sudah bebas tetapi koleksi barang seni itu masih juga hilang.

8. Kuwait: Agustus 1990

Museum Nasional Kuwait dan Dar al-Athat al-Islamiyya (Balai Baharian Islami) dijarah selama pendudukan tujuh bulan oleh Irak. Bangunan-bangunan itu dibumihanguskan. Kedua museum tersebut menyimpan salah satu koleksi seni islami terbaik dunia yang oleh keluarga al Sabah dari Kuwait dihimpun selama 1970-an dan 1980-an. Kurang lebih 20.000 barang koleksi––termasuk senjata, zirah, keramik, tembikar, segel, dan barang seni hiasan dari Persia kuno, Mesir Mamluk, dan kaisar-kaisar Mughal di India dan Kuwait dari Zaman Perunggu––dimuat ke dalam peti-peti dan oleh tujuh belas truk gandeng dibawa pergi ke Museum Nasional Irak di Baghad.

Harapan bahwa koleksi tersebut suatu hari bisa dipulangkan sempat cukup tipis (mungkin dengan cara dibeli secara ketengan pada pasar gelap) tetapi sebuah tim kurator tiba di Baghdad enam bulan setelah gencatan senjata dan antara 16 September dan 20 Oktober 1991 kurang lebih 16.000 barang koleksi berhasil dipulangkan.

Pencurian seni massal berdukungan negara itu mengingatkan pada aksi para penakluk zaman dahulu, seperti mereka pada zaman monarki Eropa dan Napoleon. Dan niat Saddam––seperti halnya Hitler––melangkau sekadar tujuan melakukan perampasan. Dia berniat menghapus jati diri sejarah dan budaya Kuwait.

9. Belanda: April 1991

'Ladang Gandum dan Burung Gagak' karya Van Gogh.
Dalam dunia hitam karya seni biasanya menjadi cagaran.
Empat orang Belanda ditahan lantaran merampok Stedelijk Museum di Amsterdam dan menggondol tidak kurang dari dua puluh lukisan Van Gogh. Semuanya ditemukan kembali dalam tempo satu jam. Pihak kepolisian meyakini bahwa apabila perampokan berhasil tidak akan ada permintaan uang tebusan. Kanvas-kanvas itu bakal dijadikan instrumen keuangan pada ekonomi hitam global.

Tiga di antara lukisan itu, termasuk salah satu lukisan visioner pemungkas Van Gogh––Ladang Gandum dan Burung Gagak––kembali dalam kondisi rusak berat. Karena lukisan yang dicuri biasanya pulang dalam keadaan baik, sering dilupakan bahwa sesungguhnya ia adalah benda yang ringkih. Kasus ini menjadi pengingat yang menohok akan hal itu.

10. Swedia: Desember 2000

'Warga Muda Paris' karya Renoir.
Cara para pelakunya melarikan diri mirip adegan film laga.
Pada pengujung Desember, beberapa menit menjelang jam tutup seorang laki-laki melangkah masuk ke dalam Musem Nasional di Stockholm sembari menenteng sebuah senapan mesin ringan. Begitu sampai di lobi dia menodongkannya ke satpam yang tidak bersenjata itu sementara dua kawannya, yang sudah berada di dalam, mencuri sebuah potret diri Rembrandt dan dua lukisan karya Renoir, yaitu Warga Muda Paris dan Perbincangan, di lantai dua. Pada saat keluar mereka menaburi lantai dengan paku sebelum kabur dengan menaiki perahu motor.

Mereka lantas mendekati seorang pengacara yang menyampaikan tuntutan tebusan sebesar $ 10 juta per lukisan. Pihak kepolisian meminta foto-foto lukisan. Foto-fotonya ternyata meyakinkan dan polisi sontak menuntut si pengacara membuka jati diri para pelaku. Si pengacara menolak atas dasar kerahasiaan dan bersikeras bahwasanya dia ‘tidak telah berbuat salah' lantaran tidak meminta uang komisi dari para pelaku. Akan tetapi, tetap saja dia diperlakukan sebagai tersangka. Delapan orang ditahan dan surat perintah untuk penahanan orang kesembilan telah diterbitkan. Namun, sampai kini lukisan-lukisannya masih juga raib.

Bagian pertama tulisan di atas dapat dibaca di sini.


Novel 'Palsu' karya Elvin Post.
Palsu
Tulisan di atas diturunkan dalam rangka akan terbitnya Palsu, edisi bahasa Indonesia thriller novelis Belanda Elvin Post. Ikuti perkembangannya pada akun Twitter Pionir Books (@PionirBooks) lewat tagar #PalsuNovelElvinPost.

17 September 2016

10 Kasus Pencurian Seni Terbesar Abad ke-20 (Bagian I)

Pencurian Mona Lisa dari Museum Louvre di Paris pada 1911 dianggap sebagai pencurian seni besar pertama abad ke-20. Sejak itu, ribuan karya seni, besar maupun kecil, hilang dicuri baik sebagai akibat dari ulah pencuri profesional maupun sebagai akibat dari perang.

Walaupun sebagian besar curian berhasil ditemukan kembali, banyak yang hingga kini masih raib. Hal itu bisa jadi menandakan betapa tidak bertanggung jawabnya ulah oknum-oknum kolektor tertentu ataupun betapa sulitnya pencuri menemukan pembeli.

Mungkin karena gabungan faktor kenekatan, uang dan keindahan, tetapi cerita pencurian seni acap diangkat ke layar lebar maupun ke halaman buku. Contoh, edisi bahasa Indonesia Vals beeld karya novelis Belanda Elvin Post yang akan terbit dari penerbit Pionir Books dengan judul Palsu, yang diilhami kisah nyata.

Berikut bagian pertama sepuluh kasus pencurian seni terbesar dunia abad ke-20 versi Forbes.com:

1. Inggris Raya: Agustus 1961

'Potret Adipati Wellington' karya Goya.
Dicuri oleh... Robin Hood.
Pada 1961, kolektor kaya raya Charles Wrightsman membeli lukisan Goya berjudul Potret Adipati Wellington seharga $ 392.000 dan dia berencana memboyongnya ke negara asal dia, Amerika Serikat. Begitu mengetahui niatnya tersebut masyarakat Inggris Raya merajuk sampai-sampai pemerintah memutuskan untuk membeli lukisan itu dengan harga beli tadi. Belum sampai tiga pekan menggantung di museum National Gallery, London, lukisan dicuri. Pelakunya menuntut tebusan sebesar harga lukisan yang, menurut pengakuannya, akan dia sumbangkan sebagai derma. Pemerintah bergeming.

Pada 1965, pencurinya mengirimkan sebuah nomor pengambilan barang kepada harian Daily Mirror di London dan pihak kepolisian menjemput lukisan itu di tempat penitipan bagasi sebuah stasiun kereta api. Enam pekan kemudian, pencurinya, yang bernama Kempton Bunton dan berprofesi sebagai pengemudi bus, menyerahkan diri. Dia berencana menggunakan tembusan untuk membayar langganan TV bagi mereka yang tidak berpunya. (Ternyata.) Bunton diganjar tiga bulan hukuman penjara.

2. Italia: Februari 1975

'Dera Kristus' karya Piero della Francesco.
Dipotong ke luar dari bingkai.
Italia, gudangnya seni yang ternyata juga menjadi rumah sejumlah mencit nakal. Ketika dua lukisan karya Piero della Francesco––Dera Kristus dan Madona Senigallia––dan sebuah lukisan karya Raphael––Si Bisu––dipotong ke luar dari bingkai dan dicuri dari Istana Keadipatian, Urbino, aksi itu dijuluki 'Kejahatan Seni Abad Ini'.

Tindak pidana tersebut murni bermotif uang. Para pelakunya kriminalis setempat yang berencana menjual curian mereka ke pasar internasional. Akan tetapi, seperti yang juga bakal didapati oleh pencuri seni lain sesudah mereka, bukanlah perkara mudah melego adikarya yang sudah langganan direproduksi oleh orang. Pada Maret 1976, ketiga lukisan itu ditemukan kembali tanpa kekurangan apa pun di Locarno, Swiss.

3. Prancis: November 1985

'Impresi, Soleil Levant' karya Monet.
Ulah... mafia Jepang?
Pencurian sembilan lukisan, termasuk Orang Mandi karya Renoir dan Impresi, Soleil Levant karya Monet, dari Museum Marmottan, Paris, berlangsung pada suatu Minggu. Pada awalnya, pihak kepolisian menaruh syak kepada kelompok radikal Action Direct. Akan tetapi, pada awal 1984 sejumlah lukisan juga pernah dicuri dari sebuah museum di luar Paris, yang berkat info seorang penadah berhasil ditemukan kembali di Jepang, yaitu di dalam tangan Shuinichi Fujikuma, seorang gangster. Yang ternyata juga menjadi otak perampokan Marmottan tadi. Buktinya, sebelum aksi Marmottan berlangsung dia sempat mengedarkan katalog sembilan lukisan yang tidak lama kemudian raib itu.

Pembatasan jangka waktu (statute of limitation) Jepang terkenal singkat dan kabar angin santer beredar bahwa mafia Jepang Yakuza telah berhasil menembus dunia seni. Namun, kenyataannya tidaklah sedahsyat itu.

Pada 1978, Fujikuma ditahan di Prancis karena kedapatan menyelundupkan 7,8 kilogram heroin. Pada saat menjalani hukuman lima tahun penjara dia berkenalan dengan Philippe Jamin dan Youssef Khimoun, dua anggota sindikat pencuri seni. Merekalah yang lantas menjalankan aksi pencurian itu atas nama Fujikuma. Pada akhirnya, lukisan-lukisan ditemukan kembali pada 1991 di Korsika. Barangnya terlalu panas, bahkan untuk Jepang.

4. Meksiko: Desember 1985

Artefak pra-Columbus.
Terlena.
Malam Natal. Satpam Museum Nasional Antropologi di Kota Meksiko delapan-delapannya tengah lena. Selain itu, sistem alarm sudah tiga tahun mati.

Satpam sif pagi, yang masuk pukul 08.00 pada keesokan harinya, yang pada akhirnya menyadari bahwa lempeng kaca telah diangkat dari atas tujuh lemari pajangan. Total 140 benda yang diambil, termasuk potongan-potongan batu giok dan emas dari seni pahat Maya, Aztec, Zapotec, dan Miztec. Kurator museum Felipe Solis memprakirakan bahwa, seandai ada pembeli, satu potongan itu saja––sebuah jambang menyerupai monyet––bisa laku di atas $ 20 juta.

Karena sebagian besar potongan tersebut berukuran kecil, semuanya muat di dalam dua buah koper. Terlepas dari ukuran, kasus itu tetap terhitung sebagai pencurian benda berharga terbesar yang pernah terjadi.

Pelajaran yang dipetik: (i) tingkat keamanan museum nasional, terutama di negara berkembang, sering tidak sebanding dengan isi museum dan (ii) pada saat Natal dan Tahun Baru ternyata tidak semua orang sedang berleha-leha di Meksiko.

5. Amerika Serikat: Februari 1988

'Ikan Pari dengan Keranjang Bawang Bombai' karya Chardin.
Koleksi awur.
Pembobolan Colnaghi’s (sebuah diler seni di London) cabang Manhattan yang berlokasi pada East 8th Street, terbilang cukup canggih. Pencurinya masuk lewat tingkap cahaya dan dengan bantuan tambang menurunkan diri sampai ke bawah. Akan tetapi, begitu di dalam, koleksi karya seni pilihan mereka berkesan agak mengawur walaupun dari ke-28 karya yang mereka bawa pergi dua adalah lukisan karya Fra Angelico––yang diasuransikan sebesar $ 4 juta–– dan satunya lagi adalah Ikan Pari dengan Keranjang Bawang Bombai karya Chardin. Hingga kini baru empat belas yang berhasil ditemukan kembali.

Barang gedoran itu (waktu itu) ditaksir bernilai antara $ 6 juta dan $ 10 juta, yang menjadikan aksi tersebut perampokan seni terbesar kota New York: bukti bahwa keuntungan dari merampok galeri swasta bisa menyamai perampokan museum.

Bagian kedua tulisan di atas dapat dibaca di sini.


Novel 'Palsu' karya Elvin Post.
Palsu
Tulisan di atas diturunkan dalam rangka akan terbitnya Palsu, edisi bahasa Indonesia thriller novelis Belanda Elvin Post. Ikuti perkembangannya pada akun Twitter Pionir Books (@PionirBooks) lewat tagar #PalsuNovelElvinPost.

15 April 2014

Pionir Books Punya Baju Baru

Baju baru Pionir Books.
Baju baru Pionir Books.


Pionir Books punya baju baru. Mulai terbitan kami yang berikut – Palsu, sebuah novel bergenre thriller karya Elvin Post – kami akan memakai baju baru.

Baju baru kami ialah seperti yang bisa Anda lihat di atas. Mulai Palsu, semua sampul buku kami akan memiliki ciri-ciri: warna cerah cenderung ngejreng; sampul muka #1 yang menampilkan judul buku dalam bahasa Indonesia; dan sampul muka #2 yang memuat judul asli buku. Keren? Pastinya, soalnya ini merupakan persembahan kami kepada Anda, para pembaca Pionir Books, yang hanya pantas menerima yang terbaik. 

Palsu, yang berkisah tentang sekelompok perampok lukisan, kami rencanakan terbit tahun ini dan ia merupakan karya kedua penulis Belanda Elvin Post yang keluar dari kami. Bukunya yang pertama berjudul Jumat Hijau dan terbit pada awal tahun 2013.

27 Desember 2012

Jumat Hijau

Sampul muka 'Jumat Hijau'.
Lewat Jumat Hijau (judul asli: Groene vrijdag), novel bergenre thriller/ crime fiction, penulis asal Rotterdam Elvin Post menggondol penghargaan Thriller Terbaik Belanda 2004. Jumat Hijau adalah karya perdananya.

Dengan alur cerita yang apik dan tokoh-tokoh yang berkesan, Jumat Hijau mengingatkan pada karya-karya penulis Elmore Leonard dan sineas Quentin Tarantino. Jumat Hijau adalah buku pertama Elvin Post yang terbit di Indonesia. Tersedia di toko buku per 7 Januari 2013.

Sinopsis
Winston Malone merasa harus mengubah peruntungannya. Dia tinggal pada suatu apartemen bobrok di Staten Island, New York, bersama Cordelia, istrinya, dan dia kurang sreg dengan pekerjaannya – apalagi gajinya – pada suatu kantor kas. Ketika kesulitan melunasi sofa tiga-bangku yang dia belikan istrinya, dia memutuskan untuk mengamalkan wejangan terakhir almarhum ayahnya. Jadilah dia terlibat dalam aksi penculikan seorang bintang sinetron dan permainan berbahaya bertaruhan dua juta dolar….

Data Buku
Judul: Jumat Hijau
Pengarang: Elvin Post
Harga: Rp 79.000
Tebal: 342 hlm
Penerbit: Pionir Books
ISBN: 978-979-15417-5-6
Tersedia di: TB Gramedia, BukuKita.com

Jumat Hijau karya Elvin Post - Book Trailer (long/ 45 sec)


Jumat Hijau karya Elvin Post - Book Trailer (short/ 15 sec)


Kunjungi Pionir Books di tumblr untuk gambar/ poster Jumat Hijau.

11 Agustus 2012

Pionir Books Ikut Merayakan Kemerdekaan RI

pamflet Dirgahayu RI & Jumat Hijau

Naskah lengkap Kebebasan ada di sini. Kunjungi laman YouTube Marion Bloem untuk deklamasian puisi ini dalam ragam bahasa. Kunjungi freedombymarionbloem.com atau facebook.com/freedombymarionbloem dan sebarkan pesan Kebebasan.