Tampilkan postingan dengan label geert wilders. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label geert wilders. Tampilkan semua postingan

20 Februari 2017

Surat Terbuka PM Belanda Mark Rutte

Mark Rutte
Mark Rutte. Foto: weekbladparty.nl.
Kepada semua orang Belanda,

Ada sesuatu yang tidak beres dengan negara kita. Mengapa sebagai negara kita begitu makmur, tetapi ada yang kelakuannya seperti orang susah? Orang-orang yang semakin lama semakin menentukan suasana di negara kita ini. Orang-orang yang siap menghempaskan apa saja yang selaku negara Belanda telah kita bangun lewat kerja keras. Apa mau kita biarkan?
 

Sebagian besar dari kita berniat baik. Para mayoritas-diam. Niat kami tulus terhadap negara kita. Kami bekerja keras, kami bergotong royong, dan kami merasa bahwa Belanda negara yang cukup kerenlah. Namun, kami juga khawatir akan cara kita bermasyarakat. Kenapa ya, kadang-kadang semua orang kok seperti berubah menjadi orang sok?

Anda pasti paham. Orang-orang yang tingkah lakunya seperti semakin asosial saja. Ya dalam berlalu lintas, di angkutan umum, di jalan. Yang merasa dirinya selalu harus didahulukan. Yang membuang sampah di jalan. Yang meludahi kondektur. Atau yang ramai-ramai menongkrong kemudian menjaili, mengancam, atau bahkan mengasari orang yang lewat. Soklah, pokoknya.

Kita merasa semakin gerah bila ada orang-orang yang menyalahgunakan kebebasan kita untuk membuat onar di sini, padahal alasan mereka telah datang kemari ya karena kebebasan itu juga. Orang-orang yang tidak mau menyesuaikan diri, mencela kebiasaan-kebiasaan kita, dan menolak nilai-nilai kita. Yang merecoki orang homo, menyoraki perempuan dengan rok pendek, atau mengatai orang Belanda kebanyakan rasis. Saya sangat bisa mafhum mengapa orang-orang jadi berpikir: kalau sampai sebegitunya kamu menampik negara kami, kenapa enggak angkat kaki sekalian? Pasal, perasaan saya sama. Kalau mau jadi orang sok, sok angkat kaki.

Tingkah laku seperti itu pantang kita anggap biasa di negara kita. Namun, solusinya bukanlah menyamaratakan kelompok-kelompok masyarakat tertentu, mencela mereka, atau serta-merta mengusir mereka secara massal dari negara kita. Kalau seperti itu caranya bagaimana kita mau membina kehidupan bermasyarakat? Solusi terutama berkenaan dengan mentalitas. Kita mesti mensosialisasikan secara ajek dan bernas apa saja yang dianggap biasa dan apa saja yang dianggap sok di negara ini. Kita harus dengan giat membela nilai-nilai kita.

Pasal, di Belanda berjabat tangan dan memperlakukan semua orang dengan sama itu biasa. Tidak mengusik petugas sosial, itu biasa. Menghormati guru dan tidak menghasut orang lewat vlog. Bekerja mencari nafkah dan menggali potensi diri: biasa. Saling membantu dalam keadaan susah dan melipur orang yang tengah dirundung masalah. Berikhtiar dan tidak lari dari permasalahan, biasa. Saling mendengarkan dengan santun. Alih-alih berperang mulut pada saat kita tidak sependapat tentang sesuatu. Biasa.

Dalam waktu dekat arah negara kita bakal ditentukan. Pertanyaan yang perlu dijawab cuma satu: negara seperti apa yang kita inginkan?

Mari kita berjuang agar kita tetap kerasan di negara kita yang permai ini. Mari kita terus mensosialisasikan apa yang dianggap biasa dan apa yang dianggap sok. Saya yakin kita bisa. Saya yakin bahwa segala sesuatu yang telah kita bangun bersama ini bisa kita kawal bersama. Anda, saya, kita semua. Mari bekerja sama menjadikan negara ini lebih baik. Soalnya, asli: negara kita keren banget. Disuruh pindah pun saya tidak mau. Kalau Anda?

Mark Rutte



Naskah di atas adalah terjemahan surat terbuka Perdana Menteri Belanda Mark Rutte yang dirilis pada 22 Januari 2017 dalam rangka pemilu Belanda yang akan berlangsung pada 15 Maret 2017. (Unduh naskah sumber.)

Bila menyimak isi surat, hal yang menarik ialah bahwa solusi yang ditawarkan oleh Rutte tidak berkenaan dengan perubahan sistem atau pengetatan peraturan, tetapi dengan mentalitas: solusinya berkenaan dengan ranah batin, ranah nonfisik. Hal itu bertolak belakang berbeda dengan pendekatan Geert Wilders, politikus anti-Islam yang menjadi penantang terkuat Rutte dalam bursa calon PM Belanda. Solusi Wilders berkenaan dengan hal ihwal yang berada pada ranah fisik.

Solusi dalam konteks ini berkaitan dengan keresahan dalam masyarakat Belanda yang diakibatkan oleh kelompok masyarakat pendatang asal Maroko, krisis migran Eropa, dan ancaman terorisme. Ada suatu ketidaknyamanan yang sedang dirasakan oleh masyarakat Belanda yang bersinggungan langsung dengan hal kesintasan. Wilders hendak mengatasinya dengan menutup perbatasan dan mendeportasi mereka yang melanggar hukum, Rutte dengan komunikasi sosial.

Keduanya melakukan apa yang menurut hemat saya menjadi tugas utama suatu negara, yaitu mengelola hasrat egoistis bangsa. Hasrat egoistis: kesintasan, kekayaan, kekuasaan, dan keilmuan.

Tata negara telah berkembang sedemikian rupa sehingga berpola pada hasrat-hasrat tersebut, tetapi hal itu--akibat ketidaktahuan--tidaklah diakui secara gamblang sehingga terkesan menjadi kebetulan belaka. Karena hasrat egoistis manusia tidak diakui, yaitu karena ketidaktahuan, negara menjadi sekadar pengelola sumber daya, alih-alih pengelola hasrat bangsa.

Pendekatan Rutte sudah tepat, relatif terhadap pendekatan Wilders. Namun, pendekatan Rutte akan lebih afdal apabila ditambahkan dengan upaya untuk memahami mereka-mereka yang dianggap meresahkan itu. (Pemahaman diraih dari pengetahuan dan adalah jalan menuju kecendekiaan.)

Dengan berusaha memahami, kita justru mengadakan perubahan pada diri kita sendiri, alih-alih mengimbau orang lain untuk berubah. Menurut saya, seseorang hanya akan berubah apabila ada panggilan dalam diri dia sendiri untuk berubah; sebelum itu terjadi segala imbauan hanya akan jatuh di pasir.

Bergiat melakukan pemahaman juga menjadi kunci untuk menggalakkan inklusivisme (lihat I-E Model)--inklusivisme berakar pada tepa salira--dalam, setidaknya, ranah sosial. Untuk menggalakkan inklusivisme pada seluruh ranah kehidupan (permutasi [I, I, I, I] pada I-E Model) dibutuhkan pemahaman mengenai diri kita sebagai manusia. Menurut saya, adalah tugas negara untuk menggalakkan peraihan pemahaman demikian lewat penyelenggaraan sistem pendidikan. Itulah pendidikan yang sesungguhnya; hal-hal lain mestinya disebut pelatihan saja. Dan seharusnya itu pula yang mesti menjadi tugas besar PM Belanda baru yang akan terpilih nanti: membuka jalan untuk Abad Pencerahan II.


Laurens Sipahelut
Tangerang, 20 Februari 2017



Kekekalan Laten Fasisme karya Rob Riemen.
Kekekalan Laten Fasisme
Tulisan di atas ditulis dalam rangka terbitnya Kekekalan Laten Fasisme karya Rob Riemen yang diluncurkan pada Sabtu, 4 Juni 2016, di Toko Buku Gunung Agung Margocity, Depok, dengan menghadirkan narasumber Rocky Gerung (FIB UI). Buku dapat dibeli pada Toko Buku Gunung Agung cabang:
  • Jakarta Pusat (Atrium, Kwitang 06, Kwitang 38)
  • Jakarta Barat (Trisakti)
  • Jakarta Timur (Arion, Kramat Jati, Pondok Gede, Tamini Square)
  • Jakarta Selatan (Blok M Plaza, Senayan City)
  • Tangerang Selatan (BSD)
  • Tangerang (Tangcity Mall)
  • Bandung (BIP)
  • Bekasi (Bekasi CyberPark)
  • Depok (Margo City)
  • Semarang (Citraland Semarang, Paragon Mall)
  • Surabaya (Galaxy Surabaya, Surabaya Delta)
  • Denpasar (LIBBI Denpasar)

5 Februari 2017

The I-E Model as an Objective Benchmark to Identify the World's Platonic Make-Up*

Laurens Sipahelut
Translator

The I-E Model outlines the author's world view that combines Plato's allegory of the cave, Bill Murray's 1993 movie Groundhog Day, and PoliticalCompass.org's political chart under a single concept. It will set an objective benchmark against which subjective notions can be measured against and that can be used to identify the Platonic make-up of an individual, a community, a nation, or even that of the entire world.

Plato's allegory of the cave, the first component to the model, forms a metaphysical framework. It depicts the transformation of the desire-driven egoistic state of mind, i.e. the prisoner chained to the wall of the cave, into a desire-free altruistic state of mind, i.e. the prisoner that has been freed from the cave.

Its key idea: humankind's egoistic desires are played out in the physical world but, Plato says, that world is an illusion. The real world, he says, takes place between your ears. As a consequence, change cannot be brought about through the manipulation of things in the physical world; it can only be achieved through the mind. The prisoner that has been freed from the cave knows this to be true.

The second component, the movie, breaks down the metaphysical transformation into four desires the chained prisoner must see out before a breakout from the cave's confines is made possible. The desires are, from base to apex: Survival, wealth, power, and knowledge.

Its key idea: Every person has to go through a progression of desires before a desire-free altruistic state of mind can be achieved.

The third and final component, the political chart, links the metaphysical to the physical. It shows how the desires play out in the physical world with the desire for survival—the chart's social dimension—being represented by the Authoritarianism-Libertarianism y-axis and the desire for wealth—the chart's economic dimension—being represented by the Left-Right x-axis. The desire for power—politics—manipulates the axes not unlike a puppeteer operating a marionette using a control bar.

Its key idea: the people at PoliticalCompass.org brilliantly and astutely reduced the political system to a two-dimensional chart to give account for the social and economic dimensions of politics. It coincides with the progression of desires depicted in Groundhog Day though without acknowledging the desire for knowledge.

Plato making mention of the imperative for philosophers to become kings implies that an additional z-axis representing the desire for power needs to be added to the chart. This allows for the desire for knowledge—philosophy—instead of the desire for power—politics—to operate the control bar, i.e. rule by philosopher-kings instead of by politicians. The model can now be assembled.

First the cave's floor plan needs to be modified. Instead of having a single expanse, a triangular (read: pyramidical) structure will be put in to partition the space into four tiers with the widest section—the base—resting against the cave's wall and the narrowest section—the apex—pointing away from it. Each tier, from base to apex, represents a desire, i.e. survival (at the base), wealth, power, and then knowledge (at the apex). The triangle's tapering shape symbolizes the desires' hierarchical nature as the higher desires form an arch over the lower ones.

With the movie incorporated, next to be incorporated, and by doing so finish the model, is the political chart, but now with the extra z-axis added. The original two-dimensional chart allows for the expression of only the first three desires as it leaves the operation of the control bar to politics (the desire for power) by omitting philosophy (the desire for knowledge). In the cave, this would've had produced a three- instead of a four-tiered triangle but by having the latter in place humankind's desire for knowledge can now be accounted for.

In the original chart, both the axes represent scales extending between two extremes; Left-Right for the x-axis and Authoritarianism-Libertarianism for the y-axis. They point to dualism. What Left and Libertarianism have in common is they are both inclusive just as Right and Authoritarianism are exclusive. The dualism hence pertains to inclusiveness and exclusiveness. This same idea will be applied to the z-axis (politics) and to the control bar, the desire for knowledge aka philosophy.

To incorporate the chart into the model the only thing that needs to be done is making the triangle dualistic in nature and to do so, while also taking into account the triangle's hierarchical nature, the only thing that needs to be considered here is the apex because whatever goes down there will trickle down in an information cascade to the tiers below. So the top tier (philosophy) can be either inclusive ('I') or exclusive ('E') even as it assigns either an 'I' or an 'E' value to each of the other three tiers below it. To allow for all the possible permutations to play out, the apex needs to be given four 'I' and four 'E' values which it can then assign to itself and to the other three remaining tiers. Sixteen permutations are made possible this way:

[Philosophy, Politics, Economics, Sociality] OR [Control Bar, Z-Axis, X-Axis, Y-Axis]

1. [I, I, I, I] 5. [I, E, I, I] 9. [E, I, I, I] 13. [E, E, I, I]
2. [I, I, I, E] 6. [I, E, I, E] 10. [E, I, I, E] 14. [E, E, I, E]
3. [I, I, E, I] 7. [I, E, E, I] 11. [E, I, E, I] 15. [E, E, E, I]
4. [I, I, E, E] 8. [I, E, E, E] 12. [E, I, E, E] 16. [E, E, E, E]

The permutations point to the Platonic make-up (read: states of mind) of an individual, a community, a nation, or even that of the whole world. That is to say, they represent those values prevailing at a given point in time as opposed to those professed on paper (e.g. constitutionally). These values are in a constant state of flux as Fear transforms 'I's into 'E's and Love transforms 'E's into 'I's. (Fascism, for example, is 'I' transformed into 'E' at the social level, i.e. on the model's y-axis.)

Every person has a Platonic triangle as does every group, people, or nation. A triangle's size is determined by the extent of influence the philosophy nested in its apex exercises in the physical world. Smaller triangles are superimposed over larger ones. The world's true borders are not delineated by country but are rather determined by the forces of Fear and Love, and they may shift from time to time in a game of triangles.

As a philosophy cascades down a triangle, it manifests in ever more crude forms of expressions. At its most crude it manifests as a physical structure. For example, people used to build cathedrals, today it's shopping malls: The larger the triangle the more ubiquitous its cathedrals of desires become.

It should be noted that the cave's interior is a desire-driven and therefore an egoism-proper and therefore an exclusiveness-proper environment while its exterior is a desire-free and therefore an altruism-proper and therefore an inclusiveness-proper environment. As a result, inside the cave the 'E' value is a true value while the 'I' is a false value. By the same token, outside the cave the 'I' is a true value while the 'E' is a false one.

Thus expression of the 'I' value inside the cave is but a simulated one, an instance of such principles as the golden rule in action. The default expression is that of the 'E' value. But human beings have an intuitive yearning to evolve and to express the true 'I' value, i.e. to step outside of the darkness of the cave and into the bright light of the open expanse. Thus man's obsession with religion and spirituality and his interpretation thereof in an exoteric light, i.e. as an expression of the false 'I' value. Outside the cave the interpretation becomes esoteric in nature, meaning that of the true 'I' value.

According to Plato, the most important purpose in life should be to look past the veil of illusion and to perceive true reality, something that can apply to individuals (i.e. on a micro scale) and to communities or nations or indeed the whole world (i.e. on a macro scale) alike. However, it is an effort that is as important as it is difficult as it requires a person to have quenched all the egoistic desires save the one for knowledge. The desire for knowledge will then fuel that person's search for answers to the Big Questions, which most certainly will constantly involve putting cherished beliefs through the wringer. And even then true reality will not dawn unless the notions of past and future are quieted and only the now is perceived. It is, however, possible to help the process along by advancing inclusive philosophies, politics, economics, and socialities [I, I, I, I]. Such an endeavor should be in fact the most important thing a nation state could do to justify its existence.


* An earlier version was published as an enclosure to an open letter addressed to Dutch politician Geert Wilders with the subject line A Stupid Open Letter to Geert Wilders Pt 2, dated September 26, 2016. The letter can be accessed online here https://pionirbooks.blogspot.sg/2016/09/a-stupid-open-letter-to-geert-wilders.html.

26 September 2016

A Stupid Open Letter to Geert Wilders Pt 2

September 26, 2016


Dear Mr. Geert Wilders,

A STUPID OPEN LETTER TO GEERT WILDERS PT 2

It was with great interest that I read your preliminary election program for the forthcoming elections in the Netherlands, a one-pager you announced through social media in late August, and also the research report that you commissioned that made a case for direct democracy in the Netherlands along the lines of the Swiss model, a more involved piece that you announced through social media in mid September.

The program, however, is tilting at windmills. It seeks to control things it cannot control. It's aware of it too, hence the use of forceful language. It seeks to transform heterogeneity into homogeneity. Is that though what the purpose is of a nation state? Is that how you think a nation state can justify its presence?

The report, meanwhile, calls on the Swiss model. Models can be very useful indeed: they simplify things to enable us to see the forest for the trees. In the report, the Swiss model is treated as a benchmark. Not that I have anything against Switzerland but what makes that country so special? How sure are the authors of the report that Switzerland cuts the mustard vis-à-vis answering the questions of what the purpose of the Netherlands is and how the Netherlands is supposed to justify itself as a nation state in this day and age?

Both documents come over as you trying to find a way to ensure that each year Santa will give you the exact presents that you want for Christmas. To do so you scoured every God-fearing country in the world in the hope of finding one that seems to have cracked the secret.

Kids are allowed to do that but you're a grown-up. Grown-ups know Santa doesn't exist. As a grown-up it's the moral behind the myth and not the presents that counts.

Enclosed please find something that you may find interesting. Thank you for your time.


Sincerely,

Laurens Sipahelut
Translator


Enclosure: 10 Questions for Multiculturalists: Answered

cc: Mr. Mark Rutte, Prime Minister of the Netherlands




Kekekalan Laten Fasisme
Kekekalan Laten Fasisme
Kekekalan Laten Fasisme karya Rob Riemen diluncurkan pada Sabtu, 4 Juni 2016, di Toko Buku Gunung Agung Margocity, Depok, dengan menghadirkan narasumber Rocky Gerung (FIB UI). Buku dapat dibeli pada Toko Buku Gunung Agung cabang:
  • Jakarta Pusat (Atrium, Kwitang 06, Kwitang 38)
  • Jakarta Barat (Trisakti)
  • Jakarta Timur (Arion, Kramat Jati, Pondok Gede, Tamini Square)
  • Jakarta Selatan (Blok M Plaza, Senayan City)
  • Tangerang Selatan (BSD)
  • Tangerang (Tangcity Mall)
  • Bandung (BIP)
  • Bekasi (Bekasi CyberPark)
  • Depok (Margo City)
  • Semarang (Citraland Semarang, Paragon Mall)
  • Surabaya (Galaxy Surabaya, Surabaya Delta)
  • Denpasar (LIBBI Denpasar)

31 Agustus 2016

Geert Wilders vs Politik Tercerahkan



Geert Wilders
Geert Wilders.
Foto: J. Warand
Pada 25 Agustus 2016, Geert Wilders mengunggah konsep agenda PVV (Partai untuk Kebebasan) untuk pemilu 2017 Belanda ke laman Facebook-nya, yang lantas disorot oleh media massa di dalam dan luar Belanda lantaran nadanya yang sangat anti-Islam tetapi juga karena isinya yang sangat ringkas karena seluruhnya bisa dicetak pada selembar kertas A4. Lima hari kemudian, pada 30 Agustus 2016, politikus anti-Islam Belanda dan ketua PVV itu kembali mengunggah tulisan ke Facebook yang isinya merupakan pengembangan dari konsep agenda PVV itu.

Tulisan berbahasa Belanda itu dapat dilihat di sini. Berikut terjemahannya:


Selembar kertas A4 kelewat singkat?
Pokok masalah yang paling mendesak sebetulnya bisa ditulis dalam 1 baris kalimat, malah dengan 2 kata saja:

DEISLAMISASI BELANDA

Persoalannya, hanya apabila tidak ada kekerasan, teror, dan kebencian dari ideologi totaliter Islam baru Belanda bisa tetap menjadi negara yang aman dan bebas.

Islamisasi merupakan masalah eksistensi terhadap kesintasan peradaban kita dan kebebasan kita.

Islam adalah suatu ideologi bengis yang totaliter––yang berkedok agama––dan oleh karena itu kebebasan konstitusional agama dan pendidikan menjadi tidak aci. Untuk apa kita harus memberikan suatu ideologi yang hendak merampas kebebasan kita kesempatan terhadap itu semua? Apakah kita tidak belajar dari jentaka yang dulu pernah ditimbulkan oleh ideologi bengis lainnya seperti komunisme dan naziisme?
Memalingkan muka dan bernalar dalam basa-basi politik ialah perbuatan tolol dan tindak bunuh diri tanpa tedeng aling-aling.

Lantas semakin lama politik memalingkan muka dan menafikan pesan ini, semakin lama perbatasan dibiarkan menganga dan semua orang dipersilakan masuk, semakin lama sifat asli Islam disamarkan, semakin lama suatu ideologi diberi status dan hak-hak yang nantinya oleh ideologi itu malah dipakai untuk merampas hak-hak milik kita, semakin lama peringatan-peringatan dari PVV mengenai semua itu dicuaikan, semakin keras pula nantinya tindakan yang bakal harus diambil untuk membalikkan keadaan.

Jadi, Kabinet, jangan lagi memalingkan muka tetapi bertindaklah, atau turunlah. Sudah cukup ini semua. Lindungilah warga Belanda terhadap Islam, teror, dan kekerasan.
Belanda pantas menerima lebih dari pemalingan muka Anda selama bertahun-tahun ini, pengkhianatan kepada negeri kita yang indah ini, dan penyerahan kebebasan-kebebasan kita yang diperoleh lewat perjuangan keras.

Belanda tetaplah harus menjadi negara yang bebas.


Negara berhak menentukan siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh melewati perbatasannya. Itu bukan menjadi persoalan. Yang menjadi persoalan ialah niat di balik hal itu, yaitu apakah ia berlandaskan kerangka berpikir yang picik atau bestari, apakah ia merangkul hanya mazhab tertentu atau semua mazhab, dan apakah ia bertolak dari egoisme atau altruisme?

Dengan memojokkan komunitas tertentu Wilders memperlihatkan bahwa niatnya berlandaskan kepicikan, merangkul hanya mazhab tertentu, dan bertolak dari egoisme. Ketiganya sesungguhnya serenteng.

Apabila pemahaman induk kearifan, kepicikan mestinya gejala yang timbul dari ketidakpahaman terhadap sesuatu karena ia sama sekali tidak mencerminkan kearifan. Dengan demikian, ada sesuatu yang oleh Wilders tidak dipahami, sebagaimana bisa ditafsirkan dari wacananya yang senantiasa memojokkan komunitas tertentu. Dia tidak memahami bahwasanya perubahan yang dia dambakan hanya bisa diadakan lewat kerangka berpikir yang bestari, yang tidak memberikan perlawanan terhadap tetapi justru mengayomi, menampung, dan pada akhirnya menyerap semua kelompok karena mengetahui bahwa lewat cara itu orang dimudahkan perjalanannya menuju pencerahan, yaitu keadaan pada kesadaran yang oleh kebestarian dikenali sebagai sesuatu yang didambakan dan pada saatnya akan dicapai oleh setiap insan.

Wilders hanya mewakili mazhab tertentu, yakni Yahudi-Nasrani dan humanisme. Golongan yang di Belanda tampil sebagai pembela mazhab tersebut oleh filsuf Belanda Rob Riemen dalam Kekekalan Laten Fasisme (2015) disebut sebagai ‘orang-orang setengah beradab yang juga merasa perlu untuk mengomentari budaya sendiri’. Mereka yang berseberangan dengan mazhab tersebut diluarkan oleh Wilders, yang adalah ciri otoritarianisme.

Menurut kamus, egoisme adalah tingkah laku yang didasarkan atas dorongan untuk keuntungan diri sendiri daripada untuk kesejahteraan orang lain. Akan tetapi, egoisme juga bisa diartikan sebagai keterikatan kesadaran kita pada hasrat. Keterikatan tersebut merintangi diri kita untuk menerima perbedaan karena, seperti ditunjukkan oleh keadaan ekstrem seperti dalam krisis migran di Eropa, hal tersebut mengharuskan kita untuk bertindak melawan naluri kesintasan, yang berakar pada hasrat akan kesintasan, hasrat terkuat ego manusia.

Kepolisian kota Aarhus di Denmark telah menerapkan hal itu dalam rangka kepraktisan (kebijakan mereka tersebut sekadar didorong oleh keinginan untuk menjaga keamanan kota; mereka sekadar melakukan pekerjaan mereka). (Silakan baca Serangan Nice dan Model Aarhus.)

Hal yang saya harapkan ialah agar Wilders berikhtiar dengan berlandaskan kerangka berpikir yang bestari, merangkul semua mazhab, dan bertolak dari altruisme. Saya menyadari bahwa hal itu tidak realistis karena yang saya tuntut dari seorang Wilders ialah bahwa dia menjadi insan yang tercerahkan padahal kapan pencerahan dialami oleh seseorang tidak ada yang tahu, termasuk oleh orang itu sendiri.

Akan tetapi, dalam politik tetapi juga pada bidang kehidupan lainnya, hal itu ternyata bisa disimulasikan. Situs PoliticalCompass.org menampilkan suatu model spektrum politik yang dibangun oleh dua dimensi: dimensi sosial (Otoritarianisme-Libertarianisme) sebagai sumbu y dan dimensi ekonomi (Kanan-Kiri) sebagai sumbu x. Berdasarkan konsep agenda PVV untuk pemilu 2017 Belanda, dimensi sosial politik Wilders bisa dibilang berada pada spektrum Otoritarianisme ekstrem sementara dimensi ekonominya berkisar pada spektrum Kiri tengah.

Dalam model itu, Wilders dapat menyimulasikan ‘politik tercerahkan’ dengan bertanya: apakah tindakan saya sudah memperlakukan orang lain sebagaimana saya ingin diperlakukan? Dalam model itu, apabila dia melandasi setiap tindakannya seturut jawaban atas pertanyaan tersebut, politik dia bakal bercirikan Libertarianisme-Kiri. Sebagai percobaan, silakan dibuktikan dengan mengisi tes yang tersedia pada PoliticalCompass.org dengan mengikuti kaidah kencana tersebut: https://www.politicalcompass.org/test.

Model tersebut belumlah sempurna tetapi ia dengan sangat jitu menggambarkan fenomena politik dalam peradaban manusia dan ia berhasil menetapkan Libertarianisme-Kiri sebagai batu loncatan menuju suatu dunia baru yang altruistis.


Laurens Sipahelut
Tangerang, 31 Agustus 2016 


Kekekalan Laten Fasisme
Kekekalan Laten Fasisme
Kekekalan Laten Fasisme karya Rob Riemen diluncurkan pada Sabtu, 4 Juni 2016, di Toko Buku Gunung Agung Margocity, Depok, dengan menghadirkan narasumber Rocky Gerung (FIB UI). Buku dapat dibeli pada Toko Buku Gunung Agung cabang:
  • Jakarta Pusat (Atrium, Kwitang 06, Kwitang 38)
  • Jakarta Barat (Trisakti)
  • Jakarta Timur (Arion, Kramat Jati, Pondok Gede, Tamini Square)
  • Jakarta Selatan (Blok M Plaza, Senayan City)
  • Tangerang Selatan (BSD)
  • Tangerang (Tangcity Mall)
  • Bandung (BIP)
  • Bekasi (Bekasi CyberPark)
  • Depok (Margo City)
  • Semarang (Citraland Semarang, Paragon Mall)
  • Surabaya (Galaxy Surabaya, Surabaya Delta)
  • Denpasar (LIBBI Denpasar)

26 Agustus 2016

Geert Wilders Permaklumkan Deislamisasi Belanda

Geert Wilders
Geert Wilders. Foto: ANP

Dalam rangka pemilu parlemen Belanda, yang dijadwalkan akan berlangsung pada 15 Maret 2017, politikus anti-Islam Belanda Geert Wilders menyiarkan konsep program pemilu PVV (Partai untuk Kebebasan), gerakan yang dia ketuai, pada laman Facebook-nya. Konsep yang panjangnya bisa dicetak pada selembar kertas A4 itu menempatkan deislamisasi Belanda pada urutan paling atas. Berikut terjemahan dokumen itu yang diunggah oleh Wilders pada 25 Agustus 2016:



KONSEP – PROGRAM PEMILU PVV 2017-2021

BELANDA MILIK KITA KEMBALI!


Jutaan warga Belanda sudah muak dengan islamisasi negara kita. Cukup sudah imigrasi massal dan pencarian suaka, teror, kekerasan, dan ketidakamanan.

Ini rencana kami: alih-alih membiayai seisi dunia dan orang-orang yang tidak kita inginkan di sini, uang akan kami belanjakan untuk rakyat umum Belanda.

Cara PVV akan melaksanakannya seperti ini:

1. Deislamisasi Belanda
  • Tidak ada lagi penambahan pencari suaka dan tidak ada lagi imigran dari negara islamis: tutup perbatasan
  • Penarikan semua izin tinggal pencari suaka yang telah diberikan untuk kurun waktu tertentu, tutup pusat penampungan pencari suaka
  • Peniadaan kerudung islamis dalam fungsi-fungsi publik
  • Pelarangan ekspresi islamis lainnya yang bertentangan dengan ketertiban umum
  • Pengurungan preventif muslim radikal
  • Denaturalisasi dan pengusiran kriminalis berkewarganegaraan ganda
  • Pencekalan 'pejuang' Suriah yang ingin kembali ke Belanda
  • Penutupan semua masjid dan sekolah islamis, pelarangan Alquran
2. Belanda kembali merdeka. Artinya, keluar dari UE
3. Demokrasi langsung: pemberlakuan referendum mengikat, penyerahan kekuasaan kepada warga negara
4. Pembatalan secara penuh rawat kesehatan risiko sendiri
5. Penurunan biaya sewa rumah
6. Uang pensiun dibayarkan pada usia 65 tahun, pensiun tambahan diindekskan
7. Penghentian dana bantuan untuk pembangunan, kincir angin, seni, inovasi, penyiaran, dsb.
8. Pembalikan penghematan perawatan di rumah, perawatan manula, penambahan tenaga perawat
9. Penambahan dana besar-besaran untuk pertahanan dan kepolisian
10. Penurunan pajak pendapatan
11. Pemaruhan pajak kendaraan bermotor

Paragraf keuangan per poin berikut jumlah:
  1. + 7,2 M
  2. Pos peringatan
  3. Pos peringatan
  4. - 3,7 M
  5. - 1,0 M
  6. - 3,5 M
  7. + 10,0 M
  8. - 2,0 M
  9. - 2,0 M
  10. - 3,0 M
  11. - 2,0 M
Jumlah: 0

Layangkan tanggapan lewat: nederlandweervanons@pvv.nl

***


Kekekalan Laten Fasisme
Kekekalan Laten Fasisme
Kekekalan Laten Fasisme karya Rob Riemen diluncurkan pada Sabtu, 4 Juni 2016, di Toko Buku Gunung Agung Margocity, Depok, dengan menghadirkan narasumber Rocky Gerung (FIB UI). Buku dapat dibeli pada Toko Buku Gunung Agung cabang:
  • Jakarta Pusat (Atrium, Kwitang 06, Kwitang 38)
  • Jakarta Barat (Trisakti)
  • Jakarta Timur (Arion, Kramat Jati, Pondok Gede, Tamini Square)
  • Jakarta Selatan (Blok M Plaza, Senayan City)
  • Tangerang Selatan (BSD)
  • Tangerang (Tangcity Mall)
  • Bandung (BIP)
  • Bekasi (Bekasi CyberPark)
  • Depok (Margo City)
  • Semarang (Citraland Semarang, Paragon Mall)
  • Surabaya (Galaxy Surabaya, Surabaya Delta)
  • Denpasar (LIBBI Denpasar)

8 Agustus 2016

EKSKLUSIF: Kembalinya Fasisme di Eropa


Rob Riemen
Rob Riemen
(Foto: Claudia Guadarrama)
Kisah tentang pengungsi dan orang buangan sejati setua bani Adam. Bilamana saja kehidupan manusia dihinggapi azab sengsara, kemiskinan ataupun peperangan, cuma ada satu hal yang dia inginkan: hengkang! Pergi meninggalkan ahwalnya yang lata dan berangkat ke suatu tempat dia bisa membangun kehidupan baru; kehidupan yang sejahtera, yang bermartabat. Sejarah Eropa, terutama sejarah abad kedua puluh-nya, ialah milik para buangan, para gusuran: para korban amuk nasionalisme, fanatisme dan totaliterisme, lantaran Eropa, dengan paham negara-kebangsaannya yang berjejak pada etnisitas, selalu alang-alangan menyambut datangnya 'orang asing'. Tidak seperti Amerika Serikat sebab terlepas dari beleid yang membatasi imigrasi dan sikap bermusuhan angry white men Partai Republik, AS tetap contoh teladan suatu negara para emigran yang jutaan di antaranya disambut oleh Patung Kebebasan, patung yang pada dudukannya tertera sajak masyhur Emma Lazarus:

Here at our sea-washed, sunset gates shall stand
A mighty woman with a torch, whose flame
Is the imprisoned lightning, and her name
Mother of Exiles. From her beacon-hand
Glows world-wide welcome; her mild eyes command
The air-bridged harbor that twin cities frame.
"Keep ancient lands, your storied pomp!" cries she
With silent lips. "Give me your tired, your poor,
Your huddled masses yearning to breathe free,
The wretched refuse of your teeming shore.
Send these, the homeless, tempest-tost to me,
I lift my lamp beside the golden door!"


Tragedi abad ke-21 merupakan tragedi suatu krisis yang belum diakui orang, yakni suatu krisis peradaban. Di satu sisi, jutaan pengungsi asal Timur Tengah dan Afrika Utara menjadi korban paling bahana krisis dalam peradaban Islam di kawasan mereka dan, di sisi lain, ketidakmampuan untuk membangun suatu masyarakat tempat mereka dapat hidup dalam kebebasan, kesejahteraan, dan martabat. Yang ada, masyarakat tersebut malah menjadi titik pusat fanatisme keagamaan, kekerasan, penindasan, dan ketidakadilan sosial. Begitu nyawa ratusan ribu penduduk melayang akibat perang dan kekerasan keagamaan yang menyebar bak api liar, mereka haruslah angkat kaki––demi keselamatan diri.

Pada saat yang sama, dalam peradaban Eropa terdapat krisis mendalam yang (kembali) diungkapkan dalam bentuk kembalinya fasisme di seantero Eropa: Rusia pemerintahan Putin sudah negara fasistik, begitu pula dengan Hungaria, sementara suara-suara fasisme-baru terdengar di: Prancis, Italia, Denmark, Finlandia, Kroasia, Yunani, Rumania, Belgia, dan… di Belanda. Fasisme adalah politik dusta yang berjejak pada penyebaran perasaan takut dan kebencian dan yang tidak menawarkan satu pun gagasan positif sebagai pemecahan. Yang lebih parah daripada gagasan mereka membangun tembok untuk mencegah masuknya pengungsi ke dalam negara mereka (suatu rencana yang toh tidak akan mempan) adalah tembok mental yang mereka bangun dalam benak penduduk, seperti: "Kita harus menghentikan invasi Islam, soalnya kita adalah penegak ajaran Yahudi-Nasrani dan humanisme!" Namun, itulah politik dusta. Suatu slogan oleh dan untuk orang-orang setengah beradab, yang sok tahu mengomentari budaya sendiri.

Barang siapa sungguh-sungguh merelai ajaran tersebut, maka dia juga harus menuruti perintah: "Sebab itu haruslah kamu menunjukkan kasihmu kepada orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir." (Ul 10:19)

Pembela mazhab di atas akan senantiasa mengiktikadkan suatu etik universal yang merangkul semua orang. Jati diri sejati kita tidak ditentukan oleh kewarganegaraan, asal usul, bahasa, keyakinan, pendapatan, rumpun bangsa atau segala hal yang membedakan orang, tetapi justru dalam hal-hal yang mempertalikan orang dan yang memungkinkan bersatunya seluruh umat manusia: nilai-nilai rohaniah universal yang menakhlikkan harkat kemanusiaan dan yang dapat diadopsi oleh setiap insan. Itulah alasan mengapa dalam mazhab tersebut pendidikan ditempatkan jauh di atas kepentingan kebendaan dan mengapa hidup dipandang sebagai ikhtiar ajek menginsafi dan mengadopsi nilai-nilai mutlak seperti kebenaran, keadilan, belas kasih, dan keindahan. Mazhab-mazhab itulah yang menempatkan seni, mazhab klasik, filsafat, dan teologi dalam titik pusat pendidikan, sebab merekalah perangkat terpenting dalam memberikan kita pembinaan dalam hal keutamaan dan yang akan membantu kita meraih kearifan tertentu.

Pengikut salah satu mazhab tersebut akan mati-matian menolak budaya kesakithatian dalam masyarakat, pengambinghitaman orang mentang-mentang mereka menganut kepercayaan atau mazhab yang berbeda, serta semua kebencian yang tercetus dari demagogi tersebut.

Pengikut salah satu mazhab tersebut tidak akan memiliki maksud menguasai massa, tetapi justru ingin meninggikan bangsa.

Pengikut salah satu mazhab tersebut akan menganuti gagasan sukma Eropa dan akan memajukan penyatuan politik Eropa.

Orang-orang fasis kini berupaya merampas etik universal dari kita, mereka membudidayakan suatu budaya kesakithatian dan pengambinghitaman; alih-alih meninggikan bangsa mereka ingin mengendalikan massa, dan mereka membenci gagasan sukma Eropa. Seandai para fasis (kembali) akan menang maka tragedi kemanusiaan yang akan berkembang tidak lagi dapat disebut "tidak terbayangkan"; pasal, kita sudah tahu bahwa kita bisa membayangkan apa yang bakal terjadi karena sebelumnya sudah pernah kita saksikan.

Akan tetapi, itu hanya akan terjadi apabila kita terus marem, apabila kita tidak menyadari kebenaran menohok tentang diri kita sendiri sebagaimana dinyatakan dengan petahnya oleh sineas Italia Federico Fellini dalam autobiografinya yang dia terbitkan setelah dia hidup dalam era fasistik di Italia:

"Fasisme selalu muncul dari suatu semangat kedaerahan, suatu kepicikan terhadap permasalahan riil serta keengganan orang untuk––karena kemalasan, praanggapan, ketamakan atau keangkuhan––memaknai hidup secara lebih dalam. Malah, mereka menganjung-anjung ketidaktahuan mereka dan mengejar kesuksesan diri sendiri atau kelompok mereka dengan cara berlagak, mengaku ini itu tanpa bukti dan membuat-buat kebaikan, alih-alih bertolak dari kemampuan nyata, pengalaman atau perenungan budaya. Fasisme, lanjut Fellini, tidak dapat diperangi apabila kita tidak bisa memafhumi bahwa sesungguhnya ia hanyalah sifat dari diri kita yang bodoh, menyedihkan dan terkecewa, yaitu sifat-sifat yang sudah sepantasnya membuat kita malu. Untuk dapat membendung bagian dari diri kita itu, kita membutuhkan sesuatu yang lebih dibandingkan sekadar penggiatan gerakan antifasisme, soalnya fasisme laten tersembunyi dalam diri kita semua. Sudah satu kali ia berhasil menggondol suatu suara, kekuasaan dan kepercayaan, dan ia dapat melakukannya lagi…"

Apa yang kita perlukan, sekarang terlebih-lebih dibandingkan dahulu, adalah pengakuan bahwasanya kita tengah hidup dalam suatu krisis peradaban serta kesadaran bahwa satu-satunya jalan keluar dari gua ini adalah suatu kebangkitan kembali nilai-nilai rohaniah universal: bahwasanya kita semua ikut memantas dunia ini sehingga kebenaran, kearifan, belas kasih, dan keadilan dapat berkibar.

Rob Riemen
September 2015


Kekekalan Laten Fasisme
Kekekalan Laten Fasisme
Kekekalan Laten Fasisme karya Rob Riemen diluncurkan pada Sabtu, 4 Juni 2016, di Toko Buku Gunung Agung Margocity, Depok, dengan menghadirkan narasumber Rocky Gerung (FIB UI). Buku dapat dibeli pada Toko Buku Gunung Agung cabang:

  • Jakarta Pusat (Atrium, Kwitang 06, Kwitang 38)
  • Jakarta Barat (Trisakti)
  • Jakarta Timur (Arion, Kramat Jati, Pondok Gede, Tamini Square)
  • Jakarta Selatan (Blok M Plaza, Senayan City)
  • Tangerang Selatan (BSD)
  • Tangerang (Tangcity Mall)
  • Bandung (BIP)
  • Bekasi (Bekasi CyberPark)
  • Depok (Margo City)
  • Semarang (Citraland Semarang, Paragon Mall)
  • Surabaya (Galaxy Surabaya, Surabaya Delta)
  • Denpasar (LIBBI Denpasar)

31 Juli 2016

Antara Fasisme dan Kalangan Elite



'Cornflower', bunga simbol nostalgia Nazi.
'Cornflower', bunga simbol nostalgia Nazi.
Rob Riemen adalah orang yang sangat serius. Paling tidak itu kesan yang saya dapat dari korespondensi saya dengan dia dalam rangka penerbitan edisi bahasa Indonesia esai dia, Kekekalan Laten Fasisme. 

Penelusuran pada internet akan memunculkan sejumlah informasi tentang Rob Riemen, yang antara lain menyatakan bahwa dia menghabiskan masa kuliahnya selama sepuluh tahun melulu dengan membaca, membaca, dan membaca. Barangkali dia adalah satu-satunya di Belanda yang menghabiskan masa kuliahnya dengan cara itu, dan mungkin itu pula yang bisa menjelaskan mengapa pada 2010 dia menjadi satu-satunya di Belanda yang secara terang-terangan menyebut politikus Geert Wilders fasistik.

Seperti pengarangnya, Kekekalan Laten Fasisme adalah buku yang padat dan serius sehingga walaupun membacanya berulang-ulang ada sesuatu yang baru yang didapat. Misalnya, baru setelah buku terbit saya menjadi sadar bahwa secara tematik isi buku ternyata mengikuti alur puisi September 1, 1939 karya W.H. Auden, yang dikutip oleh pengarang pada awal buku. Atau bahwa warna sampul buku ternyata menyerupai warna biru ‘cornflower’, bunga yang menjadi simbol nostalgia Nazi.

Fasisme adalah suatu drama tentang manusia, sementara manusia adalah makhluk yang digerakkan oleh hasrat. Sehingga fasisme sesungguhnya adalah drama yang digerakkan oleh hasrat.

Persoalannya, di mana-mana sistem pendidikan tidak ada yang membekali para peserta didiknya untuk mencapai pencerahan; yang dilakukan oleh sistem pendidikan sekarang ini hanyalah menyiapkan para peserta didiknya untuk suatu masa depan sebagai aset bisnis. Manusia yang dihasilkan oleh sistem pendidikan yang demikian kesulitan memahami fasisme karena manusia yang demikian berusaha untuk menjelaskan fasisme bukan berdasarkan pengetahuan tentang dirinya sebagai manusia, tetapi berdasarkan pengetahuan tentang… pengetahuan, yaitu hal ihwal yang sudah dibekalkan kepada dia oleh sistem pendidikan untuk masa depannya selaku aset bisnis.

Sistem pendidikan saat ini sesungguhnya mengkhianat manusia.

Fasisme adalah suatu keadaan tempat Hasrat akan Pengendalian Kebutuhan Hidup dan Hasrat akan Penghimpunan Kebutuhan Hidup mengacu mundur kepada Hasrat akan Pemerolehan Kebutuhan Hidup, alih-alih mengacu ke depan kepada Hasrat akan Pencerahan.

Dengan kata lain: Kekuasaan dan Kekayaan mengabdikan diri kepada Kesintasan, alih-alih kepada Pengetahuan.

Fasisme, dengan demikian, dapat digambarkan sebagai suatu keadaan tempat partai politik mengajak dunia usaha dan orang kebanyakan untuk mengadopsi suatu pola-pikir yang mengedepankan urusan perut. Untuk mengadopsi hukum rimba—alih-alih mengedepankan nalar.

Oleh karena itu, desa dalam cerita kita tadi yang pada awalnya sentosa pun berubah kisruh. Pandangan hidup yang semula diambil dari sungai yang jernih kini ditimba dari sumur yang keruh. Akibatnya, manusia kian diperbudak oleh hasrat-hasratnya. Hasrat-hasrat yang merantai manusia di dalam Gua Plato. 

Rob Riemen menyalahkan para elite, yaitu para cendekiawan, partai politik, dan dunia usaha. Mereka telah mengkhianat orang kebanyakan dengan cara menyempitkan kesadaran orang kebanyakan. Kesadaran yang sempit adalah prasyarat fasisme. Jalan keluar yang ditawarkan oleh Rob Riemen adalah: kembangkan kesadaran, yaitu dengan cara kembali mencintai hidup. Hanya dengan begitu kita dapat menyiasati fasisme.

Disampaikan pada peluncuran buku Kekekalan Laten Fasisme karya Rob Riemen, Sabtu, 4 Juni 2016, di Toko Buku Gunung Agung Margocity, Depok.


Laurens Sipahelut
Tangerang, 31 Juli 2016


Bagian pertama tulisan di atas––Alegori Desa––telah diunggah ke blog ini pada 27 Juli 2016.



Kekekalan Laten Fasisme karya Rob Riemen.
Kekekalan Laten Fasisme karya Rob Riemen.
Kekekalan Laten Fasisme karya Rob Riemen diluncurkan pada Sabtu, 4 Juni 2016, di Toko Buku Gunung Agung Margocity, Depok, dengan menghadirkan narasumber Rocky Gerung (FIB UI). Buku dapat dibeli pada Toko Buku Gunung Agung cabang:
  • Jakarta Pusat (Atrium, Kwitang 06, Kwitang 38)
  • Jakarta Barat (Trisakti)
  • Jakarta Timur (Arion, Kramat Jati, Pondok Gede, Tamini Square)
  • Jakarta Selatan (Blok M Plaza, Senayan City)
  • Tangerang Selatan (BSD)
  • Tangerang (Tangcity Mall)
  • Bandung (BIP)
  • Bekasi (Bekasi CyberPark)
  • Depok (Margo City)
  • Semarang (Citraland Semarang, Paragon Mall)
  • Surabaya (Galaxy Surabaya, Surabaya Delta)
  • Denpasar (LIBBI Denpasar)