16 November 2015

Surat Terbuka Itu kepada Geert Wilders



Yth. Bapak Geert Wilders,

Saya telah membaca tulisan Bapak dalam harian Belanda de Volkskrant tertanggal 5 November 2015, yang isinya cukup menarik. Dalam tulisan Bapak, Bapak menguraikan bagaimana kalangan elite politik Belanda sudah tidak menyambung lagi dengan masyarakat Belanda, yang, dalam kaitannya dengan krisis pencari suaka yang menjadi tema latar tulisan Bapak, menghendaki bahwasanya jati diri bangsa dilestarikan dengan cara menghalau segala sesuatu yang berbau asing, karena kalau tidak mereka bakal menyeberang perbatasan dan seperti bangsa Borg dalam Star Trek bakal 'meleburkan' bangsa Belanda sampai licin.

Amit-amit jabang bayi, tapi kalau itu sampai terjadi melawan tentu bakal perbuatan sia-sia belaka sehingga, dengan demikian, kalau saya mengikuti jalan pikiran Bapak dengan benar, Bapak bertekad untuk memberikan masyarakat Belanda hal-hal yang selama ini ditolak oleh elite politik, yaitu menutup perbatasan untuk mementalkan arus pencari suaka; meningkatkan keamanan dengan cara mengurangi Islam dan mengurangi tindak kejahatan; dan memperbaiki layanan kesehatan dan layanan lansia dengan cara memangkas pos pengeluaran yang biasanya ditujukan untuk orang migran dan Yunani nehek itu.

Singkat kata, sepertinya solusi Bapak untuk segala macam permasalahan adalah melenjan segala sesuatu menjadi dua kelompok: asing vs pribumi. Untungnya, bahasa Belanda punya dua kata yang dengan tepat tetapi santun mengungkapkan itu: allochtoon yang berarti asing dan autochtoon yang berarti pribumi. Sangat bermanfaat.

Dan sangat payah.

Pak, saya bisa salah bisa juga benar, tetapi dari kacamata Bapak: pribumi identik dengan baik, asing identik dengan tidak baik. Namun, dalam dikotomi hitam putih macam ini, pilihan yang diambil oleh kelompok yang 'baik' untuk kepentingan orang 'baik' – begitu Bapak keluhkan dalam tulisan Bapak – malah dikecam oleh rekan-rekan Bapak dan oleh media massa sebagai sesuatu yang datangnya dari suatu keadaan hati yang 'gelap dan bodoh'.

Kemudian Bapak dengan cukup keren menulis bahwa elite politik telah mengawali suatu 'mars kesintingan' yang akan mengantar seluruh Belanda ke jurang kehancuran karena, kalau saya boleh simpulkan pola pikir Bapak, tindakan mereka bertentangan dengan apa yang Bapak, dan dengan demikian masyarakat Belanda, selama ini menuntut, yaitu: tutup perbatasan; kurangi Islam; lebih banyak ini itu untuk wong cilik.

Kemudian Bapak menulis bahwa krisis pencari suaka sesungguhnya gejala dari suatu penyakit yang lebih dalam, yaitu elite politik yang tidak menyambung lagi dengan masyarakat. Soalnya, segala sesuatu yang mereka perbuat melulu kebalikan dari apa yang dihendaki oleh masyarakat, yang dihendaki oleh Bapak tentunya dan, di mata Bapak, krisis pencari suaka mempertunjukkan hal itu dengan sangat gamblang. Sehingga, Bapak pun merasa perlu untuk mereformasi sistem politik. Pasal, hanya rakyat, dan seorang Geert Wilders, dan bukan para petinggi pada parlemen tentunya, yang tahu apa yang terbaik bagi Belanda. Setelah itu, dalam tulisan Bapak, Bapak menyerukan suatu revolusi politik yang demokratis dan non-bengis.

Pak Geert, saya boleh jadi tidak setuju sama sikap Bapak yang memecah belah dan suka memaksa itu, tetapi sama yang satu ini saya setuju sekali. Saya setuju sekali bahwasanya sistem politik betul butuh dirombak total. Soalnya begini, Pak Geert: masa iya politik sistem yang berlaku sekarang ini memungkinkan siswa untuk dengan cara yang tidak patut mengambil alih tugas mengajar dari guru?

Soalnya begini, Pak Geert, sistem yang berlaku sekarang ini memungkinan Bapak untuk berbuat itu. Bukan Bapak saja sih, tetapi semua teman-teman Bapak dalam dunia politik. Padahal, untuk dapat mengambil alih tugas mengajar si siswa itu mesti luar biasa berbakat, dia mesti dianggap luar biasa maju untuk umurnya, dan dia mesti menginsafi betul seluk-beluk dunia. Soal yang terakhir itu Bapak malah menuding teman-teman Bapak di parlemen masih harus banyak belajar. Akan tetapi, kenyataannya Pak, Bapak pun begitu alias sebelas-dua belas saja.

Dan seperti halnya di dalam kebanyakan ruang kelas, ruang kelas kita yang ini juga punya tipe-tipe siswa yang paten punya. Akan tetapi, saya masih kurang yakin mau memasukkan Bapak sebagai tipe mana – tukang onar, tukang lamun, genius? – tapi yang pasti Bapak belum pantas untuk mengajar. Pasal, seorang guru dalam keadaan seperti ini bakal berbuat begini: dia akan mengajari siswa-siswanya bahwa bala adalah bagian dari hidup, bahwa ia tidak lain adalah cara bagi seseorang untuk tumbuh dan berkembang. Malah, ia bisa dikatakan merupakan kesempatan bagi kita untuk bertumbuh dan berkembang. Dia akan berkata bahwa segala upaya untuk mengelak dari bala dengan maksud memperlama nasib baik hanyalah perbuatan yang sia-sia belaka. Akan tetapi, Pak Geert (siswa), Bapak malah menganjurkan untuk mengelak. Akan tetapi, menurut hemat saya itu wajar-wajar saja.

Pasal, siswa mana sih yang dengan sukarela membiarkan dirinya mengalami bala? Ada kalanya si siswa memang bisa mengelak dari tugas-tugas tidak asyik seperti PR, tetapi tidak mungkin dia melakukan itu dengan terus-menerus. Ada kalanya dia terpaksa harus menghadapi balanya. Biasanya itu terjadi kala hidup memberikan dia cobaan yang, tidak seperti arus pencari suaka, tidak bisa dia lihat muncul dari kejauhan.

Akan tetapi, dengan menghadapi bala, betapapun itu terasa menyakitkan, Bapak justru membuka jalan untuk keberhasilan tertentu, yaitu Bapak membuka jalan untuk naik kelas dan, siapa tahu, untuk kembali sebagai seorang guru yang siap untuk mengajar. (Apa yang tidak mematikan menjadikan Bapak lebih tangguh.) Akan tetapi, bagaimana mau menghadapi bala besar kalau yang kecil saja Bapak tidak bisa atasi dengan benar? Bagaimana mau naik kelas kalau mengerjakan PR yang mudah saja tidak becus? Bagaimana mau bertumbuh menjadi lebih tangguh?

Seperti pada kebanyakan ruang kelas, ruang kelas kita yang ini juga menjadi bagian dari suatu sekolah. Kebetulan sekolah kita ini kita jadikan perumpamaan untuk gua Plato (dari perumpamaan gua Plato yang tersohor itu). Seperti yang barangkali Bapak sudah tahu, Plato seorang filsuf asal Yunani dan kebetulan saja dia menjabat sebagai kepsek pada sekolah ini, yang kita namakan Sekolah Altruisme Plato. (Yang terakhir itu karangan saya saja.)

Pada sekolah ini, perkara seperti rugi laba, kebanggaan, dan patriotisme tidak ada apa-apanya sama yang namanya Cinta. Pada sekolah ini, negara bangsa hanyalah ikhtiar untuk melayani kemanusiaan, dan tidak pernah sebaliknya. Pada sekolah ini, segala sesuatu yang Bapak begitu agungkan tidak ada artinya karena mereka sama sekali tidak membantu siswa naik kelas lantaran sifatnya yang mengekang jiwa. Nilai-nilai subjektif mengekang jiwa; nilai-nilai universal membebaskan jiwa. Jiwa harus dibebaskan sehingga jangan menggalakkan nilai-nilai yang mengekang jiwa sebagaimana yang Bapak lakukan selama ini. Galakkan nilai-nilai yang membebaskan jiwa. Dengan demikian, revolusi Bapak haruslah bertujuan mengganti nilai-nilai subjektif itu (rugi laba, kebanggaan, patriotisme) dengan nilai-nilai universal (kebenaran, keadilan, cinta). Revolusi Bapak haruslah bertujuan menjadikan siswa naik kelas dan kembali sebagai guru untuk mengajar. Itu pun kalau Bapak tidak mau semua menjadi sia-sia belaka.

Dengan demikian, apa yang saya minta dari revolusi Bapak adalah untuk mewujudkan gagasan Plato ihwal raja filsuf. Supaya afdal, hal pertama yang kita butuhkan adalah suatu masyarakat pemikir bebas. Sehingga ada bagusnya juga kalau Bapak mempertimbangkan untuk memecah revolusi menjadi beberapa bagian. Bagian pertama adalah mengubah Belanda menjadi masyarakat pemikir bebas yang tulen. Itu pun kalau Bapak tidak mau semua menjadi sia-sia belaka.

Setelah masyarakat pemikir bebas kita terwujud, Bapak bisa mulai merevolusi parlemen (yakni, bagian kedua dari revolusi kita) guna menjadikan parlemen tempat yang keramat untuk Kebenaran dan Keadilan. Di tempat itu hanya seorang guru yang dapat mengajar. Itu pun kalau Bapak tidak menghendaki semua menjadi sia-sia belaka.

Begitu Belanda menjadi suatu masyarakat pemikir bebas yang bernapaskan Cinta, baru Bapak boleh menyelenggarakan berbagai referendum itu seperti di Swiss, dan ini sekaligus menjadi bagian yang ketiga dan terakhir dari revolusi kita.

Menurut saya, seharusya seperti itulah revolusi Bapak harus dijalankan. Itu pun kalau Bapak tidak mau semua menjadi sia-sia belaka.

Hormat saya,

Laurens Sipahelut
#KekekalanLatenFasisme, @PionirBooks

Tulisan di atas diturunkan dalam rangka terbitnya Kekekalan Laten Fasisme, esai filsuf Belanda Rob Riemen yang mengingatkan terhadap bahaya laten fasisme di Eropa dan menunjuk politikus Geert Wilders sebagai prototipe fasisme masa kini. Untuk info terkini tentang Kekekalan Laten Fasisme pantau kicauan ber-tagar #KekekalanLatenFasisme pada Twitter. Kekekalan Laten Fasisme dapat dipesan pada Pionir Books dan outlet daring pilihan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar