Halaman muka 'The New York Review' edisi 22 Juni 1995. |
Eco mengemukakan empat belas ciri Ur-fasisme:
- Pengultusan tradisi. Paham bahwasanya suatu kebenaran tertentu telah diwahyukan dahulu kala sekali itu saja, dan tugas kita pd zaman sekarang hanyalah berusaha menafsirkannya. Dampaknya politisasi agama.
- Penolakan thd modernisme. Penolakan thd Pencerahan dan Age of Reason, yg dianggap sbg awal mula kebejatan. Dampaknya irasionalitas.
- Pengambilan tindakan demi tindakan itu sendiri. Tindakan diambil sebelum ataupun tanpa becermin terlebih dahulu. Dampaknya, berpikir menjadi suatu bentuk emaskulasi.
- Ketaksepakatan dianggap pengkhianatan.
- Rasisme. Ur-fasisme bertumbuh dng mengeksploitasi rasa takut akan perbedaan.
- Berupaya merangkul kelas menengah yg kecewa. Kelas menengah tsb sedang mengalami krisis ekonomi dan merasa takut akan tekanan dr kelas sosial lain yg lebih rendah.
- Terobsesi adanya komplotan. Para pengikut harus merasa terkepung baik dr luar (dunia internasional) maupun dr dl.
- Pengikut mesti merasa terhina. Yaitu, oleh pamer kekayaan dan kekuatan kalangan musuh. Akan tetapi, para pengikut harus diyakinkan bahwasanya musuh dapat diatasi.
- Elitisme rakyat. Setiap warga negara adalah anggota bangsa paling hebat yg ada di muka bumi ini, anggota parpol adalah para warga negara terbaik. Akan tetapi, pd saat yg sama, Sang Pemimpin tahu bahwasanya kekuatan dia berlandaskan pd kelemahan massa.
- Hidup adalah perang abadi. Pasifisme berarti bersekongkol dng musuh.
- Heroisme. Semua orang dididik untuk menjadi seorang hero. Dl kalangan ISIS itu diistilahkan sbg mati syahid.
- Kejantanan. Lantaran perang dan heroisme merupakan dua hal yg sulit untuk dimainkan, si penganut Ur-fasisme mengalihkan keinginan dia akan kekuasaan ke hal ihwal seksual: dia memandang rendah perempuan dan tidak bisa menerima dan mengecam penyimpangan seksualitas. Lantaran seksualitas pun sulit untuk dimainkan, sbg penggantinya dia menjadi gemar bermain dng senjata.
- Populisme selektif. Warga negara tidak dikehendaki mengambil tindakan; mereka hanyalah diminta untuk berperan sbg Rakyat.
- Newspeak. Bahasa fasisme miskin kosakata dan menerapkan sintaks yg sangat sederhana dl rangka membatasi ikhtiar untuk bernalar secara kritis dan kompleks.
Ranah Sebab/ Akibat
Dl menjabarkan pengertian fasisme, Eco bertolak dr Ranah Akibat (Plane of Effects). Ranah tsb merupakan tempat akibat-akibat mengejawantah seturut sebab-sebab yg melandasinya. Segala hal yg ada pd ranah tsb telah terjadi shg pd ranah tsb tidak dapat diadakan perubahan. Ranah Akibat adalah dunia fisik.Apabila dijabarkan dng bertolak dr Ranah Sebab (Plane of Causality), fasisme adalah: ajakan seorang pemimpin kpd pengikutnya untuk mundur ke hasrat-akan-kesintasan pd rangkaian hasrat manusia. Untuk itu si pemimpin akan mengobarkan rasa takut yg akan menyusutkan alih-alih mengembangkan kesadaran manusia.
Rangkaian hasrat memuat empat hasrat: hasrat-akan-kesintasan, hasrat-akan-harta-, hasrat-akan-kekuasaan, dan hasrat-akan-pengetahuan. Keempat hasrat tsb mengikat manusia di dl Gua Plato, tetapi pd hasrat terakhir (hasrat-akan-pengetahuan) manusia akan berusaha untuk meninggalkan Gua Plato. Begitu meninggalkan Gua Plato, manusia menjadi terbebas dr hasrat.
Kesadaran yg terikat di dl Gua Plato merupakan kesadaran
egoistis yg digerakkan oleh hasrat. Kesadaran yg berhasil meninggalkan Gua
Plato merupakan kesadaran altruistis yg terbebas dr hasrat.
Pd fasisme, kesadaran suatu bangsa akan diikat makin kuat
di dl Gua Plato krn ia akan diajak mundur ke hasrat-akan-kesintasan, hasrat
pertama yg dilalui oleh manusia dl hidup dan yg bersifat paling egoistis krn
letaknya yg paling jauh dr pintu keluar Gua Plato.
Ranah Sebab merupakan sumber segala hal dan peristiwa
sebelum mereka mengejawantah pd Ranah Akibat. Perubahan dapat diadakan pd ranah
itu. Ranah Sebab adalah dunia mental.
Fasisme diatasi dng menjadikan kita, manusia, pemain
alih-alih bidak pd permainan yg bernama hidup ini. Untuk itu kita, manusia,
harus mengetahui sifat sesungguhnya manusia: manusia adalah kesadaran. Dan krn
kita adalah kesadaran, kita, manusia, sesungguhnya adalah penguasa Ranah
Akibat. Saat ini manusia dng keliru menganggap dirinya sbg hamba Ranah Akibat.
Sbg ciptaan berupa kesadaran, kodrat manusia adalah untuk berevolusi. Artinya, kodrat manusia adalah menunaikan rangkaian hasrat sampai tuntas, yaitu mulai dr hasrat yg paling jauh dng pintu keluar Gua Plato (kesintasan) sampai dng hasrat yg paling dekat dng pintu keluar Gua Plato (pengetahuan), dan kemudian meninggalkan Gua Plato lewat pintu keluar itu.
Sbg ciptaan berupa kesadaran, kodrat manusia adalah untuk berevolusi. Artinya, kodrat manusia adalah menunaikan rangkaian hasrat sampai tuntas, yaitu mulai dr hasrat yg paling jauh dng pintu keluar Gua Plato (kesintasan) sampai dng hasrat yg paling dekat dng pintu keluar Gua Plato (pengetahuan), dan kemudian meninggalkan Gua Plato lewat pintu keluar itu.
Sbg ciptaan berupa kesadaran yg keliru menganggap dirinya
sbg hamba Ranah Akibat, manusia menunaikan rangkaian hasrat dng berserah kpd
keadaan. Pasal, kita tidak mengetahui bahwa kodrat kita adalah untuk berevolusi
menuju pintu keluar Gua Plato. Krn tidak mengetahui hal tsb, kita membiarkan
kekuatan yg berdaya menyusutkan kesadaran (spt rasa takut) membawa kita mundur
dl rangkaian hasrat.
Sbg ciptaan berupa kesadaran, manusia bertugas
mengembangkan kesadarannya. Dng mengembangkan kesadaran, manusia akan
mengetahui sifat dia yg sesungguhnya. Negara bangsa merupakan lembaga yg
memiliki kewajiban untuk memastikan manusia mengembangkan kesadarannya, antara
lain melalui sistem pendidikan. Itu satu-satunya cara untuk memastikan fasisme
tidak dapat muncul kembali.
Filsuf Belanda Rob Riemen mengemukakan hal serupa dl esai dia yg bertajuk Kekekalan Laten Fasisme. Pd pengujung esainya tbs, Riemen menulis: 'Hanya setelah kita menemukan kembali kecintaan akan hidup dan ingin kembali mengabdikan hidup kepada hal ihwal yang sungguh-sungguh memberikan hidup – kebenaran, kebaikan, keindahan, persahabatan, istikamah, belas kasih, dan kearifan –, hanya setelah itu, dan tidak sebelumnya, kita akan menjadi tahan terhadap basil mematikan yang bernama fasisme.'
Filsuf Belanda Rob Riemen mengemukakan hal serupa dl esai dia yg bertajuk Kekekalan Laten Fasisme. Pd pengujung esainya tbs, Riemen menulis: 'Hanya setelah kita menemukan kembali kecintaan akan hidup dan ingin kembali mengabdikan hidup kepada hal ihwal yang sungguh-sungguh memberikan hidup – kebenaran, kebaikan, keindahan, persahabatan, istikamah, belas kasih, dan kearifan –, hanya setelah itu, dan tidak sebelumnya, kita akan menjadi tahan terhadap basil mematikan yang bernama fasisme.'
Kekekalan Laten Fasisme |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar