17 Juli 2016

Serangan Nice dan Model Aarhus


Pada 14 Juli 2016, di Nice, Prancis, tidak sampai 250 hari setelah Serangan Paris, Mohamed Lahouaiej Bouhlel, mengemudikan sebuah truk gandeng yang dia tabrak-tabrakkan ke kerumunan orang yang tengah merayakan Hari Nasional Prancis. Perbuatannya menelan 84 korban jiwa.

Sebagai tanggapan terhadap kejadian tersebut, yang sekarang dikenal sebagai Serangan Nice, Presiden Prancis François Hollande berjanji akan melakukan pembalasan. Perdana Menteri Inggris Theresa May dan Kanselir Jerman Angela Merkel seperti menimpali pernyataan Hollande tersebut ketika menyatakan bahwa mereka akan berjuang bahu-membahu dengan Prancis dalam menghadapi terorisme. May juga menegaskan bahwa apabila kejadian di Nice ternyata tindakan teror, Inggris harus melipatgandakan 'usaha untuk mengalahkan pembunuh-pembunuh keji yang hendak menghancurkan pandangan hidup kami'. Simpati serupa mengalir masuk dari Barat maupun Timur (termasuk Amerika Serikat, India, Belgia, Kanada, Australia, Indonesia, Tiongkok, Turki, dan Selandia Baru).

Sementara itu, 1400 km utara dari Nice, di Aarhus, Denmark, sejumlah petugas polisi mengambil pendekatan yang bertolak belakang dengan retorika para pemimpin dunia terkait terorisme dan aksi pemberantasannya sehingga, mungkin karena melawan pakem yang sudah berterima luas itu, menjadi berkesan tidak lazim, yaitu mereka justru merangkul para pemuda yang menjadi korban radikalisme. Pendekatan itu, yang kini disebut model Aarhus, dikisahkan dalam tulisan yang dapat dibaca di sini.

Dalam model Aarhus, warga kota yang memutuskan untuk pergi ke Suriah dijamin akan diterima kembali di kota itu: mereka akan mendapatkan bantuan dalam mencari sekolah, bantuan mencari tempat tinggal, dan bantuan konseling. Kalangan akademisi sekarang mulai meneliti strategi yang dijalankan oleh kepolisian Aarhus itu, yang notabene juga pernah dipakai oleh Martin Luther King Jr. dan Mahatma Gandhi. Yang diketahui sejauh ini ialah bahwa ada hubungan timbal balik yang erat antara perendahan (humiliation) dan pencarian akan suatu ideologi ekstrem.

Setelah Serangan Paris terjadi pada pertengahan November 2015, saya membuat tulisan mengenai hubungan timbal balik antara penolakan dan tindakan ekstrem, yang saya kirimkan ke sebuah media cetak tetapi tidak pernah dimuat. Tulisan saya itu dapat dibaca di bawah ini:

==========

Serangan Paris dan Nilai-Nilai Universal Obama

Laurens Sipahelut

Aktor Jim Carrey pernah menggambarkan depresi sebagai suatu keputusasaan tingkat rendah yang berlangsung terus-menerus, yang adalah penggambaran yang sangat tepat. Walaupun bertingkat rendah keputusasaan tersebut membajak seluruh alam pikiran sampai-sampai yang bisa dipikirkan hanyalah bagaimana caranya kita bisa terlepas dari perasaan itu. Tidak ada lagi yang terasa nikmat atau mengasyikkan, dan perasaan muram itu pun hanya bisa diubah menjadi senang apabila yang dibayangkan adalah kematian, yaitu sebagai satu-satunya jalan keluar dari keputusasaan tersebut.

Depresi bisa jadi dipicu oleh penolakan diri seseorang pada berbagai tataran oleh suatu sistem yang mentransformasikan manusia, tanah, dan uang menjadi aset yang dapat diperjualbelikan. Sistem tersebut telah menolaknya sebagai aset yang layak. Sebagai catatan, walaupun sangat menyiksa dan mengancam jiwa, depresi dapat mengantar seseorang kepada suatu pemahaman metafisika akan realitas yang secara ilmiah sulit dicapai.

Pada 1951, tentara KNIL yang telah didemobilisasi dipindahkan untuk sementara waktu dari Indonesia ke Belanda tempat mereka ditampung di berbagai kamp dalam kondisi yang boleh dibilang kurang layak. Pemerintah Belanda menjanjikan mereka dapat mendirikan negara mereka sendiri di Maluku tetapi setelah menunggu hingga satu generasi––kurang lebih 24 tahun––komunitas Maluku Selatan tersebut mulai hilang harapan akan janji itu dan beberapa pemudanya berubah radikal: mereka memutuskan untuk membajak kereta api, pertama pada 1975 dan kedua pada 1977, dalam rangka memperjuangkan Republik Maluku Selatan yang telah dijanjikan kepada mereka itu.

Seperti pada kasus depresi di atas, keadaan telah menjadikan suatu komunitas, yang hidup dalam suatu sistem yang berjalan menurut nilai-nilai subjektif, putus asa dan suatu anasir pada komunitas tersebut lantas terdorong untuk mengambil tindakan yang sangat menyiksa dan mengancam jiwa. Para pelakunya masih berumur muda, antara 17 sampai dengan 27 tahun. Orang pada kisaran umur itu lazimnya menyibukkan diri dengan mencari pasangan hidup dan berkarier; waktu luang lebih senang mereka habiskan dengan menyaksikan pertandingan sepak bola Eredivisie pada layar kaca alih-alih menyusun rencana membajak kereta api dan lalu mengeksekusi rencana tersebut.

Serangan 11 September 2001 di New York, pengeboman kereta api pada 11 Maret 2004 di Madrid, pembunuhan Theo van Gogh pada 2 November 2004 di Amsterdam, pengeboman transportasi umum pada 7 Juli 2005 di London, penembakan Charlie Hebdo pada 7 Januari 2015 di Paris, dan serangan Paris pada 13 November 2015 lalu mengguncang dunia barat. Semua serangan tersebut mestinya sangat menyiksa dan mengancam jiwa para pelakunya. Seperti halnya pada kasus pembajakan kereta api dan depresi di atas, mereka, para pelaku, mestinya lebih senang menghabiskan waktu luang menonton hiburan pada layar kaca. Lalu apa yang menjadikan mereka sedemikian putus asa sehingga mereka malah menyusun rencana penghancuran dan kemudian mengeksekusi rencana tersebut?

Pascaserangan Paris pada 13 November 2015, Presiden AS Barack Obama, pemimpin dunia bebas, mengutarakan simpatinya dengan berkata, "Ini merupakan serangan atas seluruh kemanusiaan dan nilai-nilai universal yang kita anut bersama." Namun, serangan Paris terjadi hanya sehari setelah kota Beirut diguncang bom bunuh diri yang merenggut nyawa 43 orang tetapi terkait peristiwa tersebut para pemimpin dunia cukup bergeming sehingga banjir simpati dari mereka, termasuk ucapan Obama yang menyatakan bahwa kejadian di Paris merupakan serangan atas seluruh kemanusiaan itu, seolah-olah bisa ditafsirkan bahwasanya peristiwa tersebut merupakan serangan atas seluruh kemanusiaan di dunia barat, dan serangan atas nilai-nilai universal hanyalah serangan atas nilai-nilai yang semua orang wajib menghafalkan tetapi yang tidak pernah diinsafi, sehingga nilai-nilai universal yang dimaksud Obama hanyalah macan kertas.

Pasal, apabila dunia barat betul menginsafi alih-alih cuma menggembar-gemborkan nilai-nilai universal tidak mungkin mereka berbuat hal-hal yang menjadikan orang seorang, suatu komunitas, atau suatu bangsa sedemikian putus asa sehingga orang seorang, komunitas, atau bangsa tersebut mengambil tindakan yang sangat menyiksa dan mengancam jiwa. Apabila betul dunia barat menginsafi nilai-nilai universal, kebenaranlah dan keadilanlah yang teradat oleh semua negara anggotanya dan semua beleid yang dijalankan akan berkiblat kepada Cinta.

Namun, karena nilai-nilai universal yang dimaksud hanyalah tulisan pada kertas, maka sesungguhnya yang berlaku adalah lawannya, yaitu nilai-nilai subjektif. Contoh saja: politikus Eropa seperti Geert Wilders asal Belanda menggalakkan wacana seperti penghematan anggaran, patriotisme, dan harga diri dalam kaitannya dengan krisis migran dan peristiwa terorisme seperti serangan Paris.

Nilai-nilai subjektif selamanya akan berakar pada Ketakutan sehingga nilai-nilai itulah yang merupakan serangan sesungguhnya terhadap kemanusiaan karena, lantaran tidak mencerahkan, mereka tidak meninggikan kemanusiaan tetapi malah menjadikannya terjeblos dalam pusaran hasrat.

Sehingga, dengan kerut alis curiga, kita sudah sepatutnya mempertanyakan siapa yang sesungguhnya merupakan korban dan siapa yang menjadi penyerang? Apa sesungguhnya nilai-nilai yang betulan membekap dunia, dan apa nilai-nilai yang hanyalah macan kertas?

==========

Apakah pembajakan kereta api di atas masih akan terjadi apabila komunitas Maluku Selatan itu diperlakukan seturut model Aarhus? Menurut saya jawabannya adalah tidak.

Cara kepolisian Aarhus memperlakukan dan menangani komunitas yang rentan radikalisasi merupakan sesuatu yang tidak bisa ditemui dalam kamus para pemimpin dunia. Yang membedakan keduanya, menurut saya, ialah jarak yang ada antara mereka dan subjek mereka: yang satu berhubungan langsung dengan subjek, dan yang satu bertindak selaku distant manager. Yang satu secara langsung dan seketika merasai dampak dari tindakan mereka, yang satu tidak karena dampak tersebut harus melewati banyak lapis sebelum bisa menyentuhnya.

Kebencian memperanakkan kebencian, tetapi kasih mengalahkannya. Itu yang menurut saya menjelaskan keberhasilan model Aarhus. Itu pula yang menjadi anjuran filsuf Belanda Rob Riemen kala menjawab pertanyaan apa kiranya yang bisa menjadi penawar paham ekstrem bernama fasisme dalam esainya Kekekalan Laten Fasisme (2015): temukan kembali kecintaan akan hidup. 

Laurens Sipahelut
Tangerang, 17 Juli 2016



Kekekalan Laten Fasisme
Kekekalan Laten Fasisme

Kekekalan Laten Fasisme karya Rob Riemen diluncurkan pada Sabtu, 4 Juni 2016, di Toko Buku Gunung Agung Margocity, Depok, dengan menghadirkan narasumber Rocky Gerung (FIB UI). Buku dapat dibeli pada Toko Buku Gunung Agung cabang:
  • Jakarta Pusat (Atrium, Kwitang 06, Kwitang 38)
  • Jakarta Barat (Trisakti)
  • Jakarta Timur (Arion, Kramat Jati, Pondok Gede, Tamini Square)
  • Jakarta Selatan (Blok M Plaza, Senayan City)
  • Tangerang Selatan (BSD)
  • Tangerang (Tangcity Mall)
  • Bandung (BIP)
  • Bekasi (Bekasi CyberPark)
  • Depok (Margo City)
  • Semarang (Citraland Semarang, Paragon Mall)
  • Surabaya (Galaxy Surabaya, Surabaya Delta)
  • Denpasar (LIBBI Denpasar)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar